Berita

Sebastian Salang/Net

Politik

Keutuhan NKRI Jadi Pembenaran Dewan Kunker Ke Luar Negeri

MINGGU, 20 AGUSTUS 2017 | 22:15 WIB | LAPORAN:

Komisi I DPR baru saja pulang kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri. Sadar bakal dapat kritikan pedas atas kunker itu, Dewan buru-buru mengklaim bahwa kunker itu sangat bermanfaat, salah satunya dapat meningkatkan upaya menjaga keutuhan NKRI.

Di masa reses lalu, Komisi I DPR menggelar dua kunker ke luar negeri. Kelompok pertama berkunjung ke Ukraina. Kelompok kedua berkunjung ke Serbia dan Kosovo, dua negara pecahan Yugoslavia.

Anggota Komisi I DPR Dimyati Natakusumah membenarkan adanya kunker itu.


"Saya bersama beberapa anggota Komisi I DPR lainnya ke Serbia dan Kosovo. Ini kan memang salah satu bagian dari kerja parlemen untuk hubungan diplomatik dan pengawasan kedutaan kita," tutur politisi PPP ini.

Kunker ini, lanjut dia, merupakan agenda reses Komisi I DPR yang sudah diatur lama. Dalam kunker itu, Komisi I melakukan pertemuan dengan parlemen Serbia dan Kosovo dan bertandang ke kantor-kantor milik Kementerian Luar Negeri RI di dua negara tersebut.

"Komisi I DPR bicara dengan parlemen Serbia dan Kosovo terkait hubungan diplomatik kedua negara. Cuma, Indonesia ini kan belum mengakui Kosovo, sementara Kosovo ini sudah merdeka dan sudah mendapat pengakuan dari Uni Eropa. PBB juga demikian cuma memang masih perlu beberapa administasi yang perlu diselesaikan makanya (Kosovo) belum diakui (sebagai negara)," katanya.

Dia mengklaim telah banyak menerima pelajaran penting dari kunker itu. Salah satunya adalah cara menjaga NKRI agar tidak bernasib seperti Yugoslavia yang kini pecah menjadi tujuh negara, dua di antara Serbia dan Kosovo.

Kata Dimyati, dari sisi sejarah, Indonesia juga sempat mengalami perpecahan, yaitu dengan Timor-Timor yang kini menjadi negara Timor Leste. Beruntung, cuma satu wilayah yang memisahkan. Wilayah lain tetap masih dalam NKRI.

“Jangan sampai kita mengalami nasib seperti Yugoslavia. Karena itu, Papua tidak boleh lepas, Aceh juga tidak boleh lepas dari NKRI. Indonesia negara hebat, lebih hebat dibanding Serbia,” tuturnya.

Meski sudah memberi pembelaan, tetap saja kritikan atas kunjungan itu tetap ada. Direktur Eksekutif Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menyebut, klaim seperti yang disampaikan Dimyati hanya akal-akalan. Sebab, dari dulu, hasil kunker DPR ke luar negeri selalu tidak jelas.

"Kebijakan DPR kunker ke luar negeri dari dulu selalu menjadi kontroversial. Kenapa? Karena cuma menghabiskan anggaran yang cukup besar dan hasilnya juga tidak jelas," ucap Salang.

Dia mencontohkan kunker Pansus RUU Pemilu ke Jerman dan Meksiko tempo lalu. Sebelum berangkat, Pansus mengklaim kunker penting untuk mempelajari sistem e-voting di dua negara tersebut untuk diterapkan di Pemilu Indonesia. Namun, dalam pembahasan RUU Pemilu, tidak pernah disinggung-singgung masalah itu. Yang ada, DPR malah ribut soal parliamentary threshold dan presidential threshold.

"Masih ingat kunker atau  studi banding terkait RUU Pemilu. Lihat hasilnya sekarang seperti apa? Enggak ada kan," cetusnya.

Untuk keluhan masyarakat atas kunker ini, tambah Salang, sebenarnya pernah ditindaklanjuti dengan melakuan moratorium kunjungan kerja keluar negeri. Hanya saja, kebijakan moratorium kerap berubah, tergantung situasi di Pimpinan DPR.

"Era sekarang ini dibuka seluas-luasnya. Padahal, di era lalu itu, DPR sudah pernah melakukan moratorium," sesalnya.

Dia pun menduga, yang kunker ke luar negeri pada reses kemarin bukan hanya Komisi I. Sebab, setiap memang selalu ada agenda kunker.

"Studi banding ini kan akhirnya selalu jadi masalah. Bahkan, Dubes kita di luar negeri ngeluh karena terbebani. Selama tidak ada moratorium bahwa studi banding tidak boleh ke luar negeri, ya tetap saja tiap-tiap komisi agendakan jalan-jalan ke luar negeri," tambah dia. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya