Berita

Muhammad Subuh/Net

Wawancara

WAWANCARA

Muhammad Subuh: Kasus Niken Angelia Di Demak Co-Incident

RABU, 16 AGUSTUS 2017 | 08:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Masyarakat baru-baru ini digemparkan dengan adanya kasus siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Demak, Niken Angelia yang dikabar­kan mengalami lumpuh pasca diberikan vaksin campak dan rubella. Alhasil, kabar mengenai kelumpuhan Niken ini membuat banyak orangtua jadi khawatir anaknya mengalami hal yang sama seusai divaksin.

Sebagaimana diketahui, imu­nisasi MR diberikan untuk melindungi anak dari penyakit ke­lainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan peng­lihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan. Campak adalah salah satu penyakit paling menu­lar yang menelan satu korban jiwa setiap empat menit, dan kebanyakan anak-anak. Sama bahayanya dengan rubela yang menjadi ancaman serius dan jika tertular di masa awal kehamilan dapat mengakibatkan cacat bawaan saat lahir pada otak, jantung, mata dan telinga.

Berikut ini penuturan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Muhammad Subuh terkait ka­sus tersebut;


Bagaimana dengan kasus Niken di Demak, Kenapa bisa terjadi?
Pada kasus di Demak, saat dilakukan pemeriksaan umum tidak ditemukan gejala tetapi setelah muncul masalah ini lalu kita periksa ternyata gejalanya sudah kronis. Jadi kondisi Niken ini co-incident artinya sudah ada penyakit lain.

Makanya saya katakan ke­pada teman-teman media agar pelaksanaan ini dikawal untuk menjaga kualitas pelaksanaan­nya. Jadi kita minta juga kepada organisasi profesi yang memiliki anggota hingga ke kabupaten kota untuk mendampingi pro­gram imunisasi ini.

Apa tidak dilakukan pemeriksaan sebelum dilaku­kannya imunisasi?
Sebenarnya ini pemeriksaan dasar sekali oleh tenaga medis sebelum memberikan apapun tindakan medis, dan imunisasi adalah tindakan medis. Kita men-campign imunisasi ini ada­lah pelayanan masyarakat, tapi disaat orang diberikan imunisa­si, maka itu adalah pelayanan invidu. Dalam rangka pelayanan medis, saya rasa harus dilakukan pengamatan secara umum.

Tapi menurut evaluasi Kemenkes, bagaimana antusias masyarakat dalam mengi­kuti program imunisasi ini?
Antusiasme masyarakat mem­bawa anaknya untuk diimunisasi MR ini cukup tinggi diband­ing imunisasi rutin lainnya. Ya meskipun pada tahap kedua imu­nisasi MR di bulan September nanti, petugas akan menghadapi tantangan besar. Pasalnya kan berbeda dengan bulan Agustus yang pelaksanaannya di sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan didampingi para guru, sementar September nanti paling berat, karena pelaksanaannya di fasilitas kesehatan, posyandu, puskesmas dan tempat-tempat yang tidak ada sarananya untuk anak jalanan. Jadi kami harus aktif cari sasaran, sehingga diharapkan sisa target 35 persen juga tercapai.

Kalau 95 persen anak terimu­nisasi MR saja sudah cukup untuk melindungi anak-anak di Pulau Jawa dari ancaman penyakit cam­pak rubela. Sisanya 5 persen anak yang belum diimunisasi sudah otomatis terlindungi kekebalan tubuhnya oleh 95 persen anak yang terimunisasi tersebut.

Sejauh ini sudah berapa persen anak Indonesia yang diimunisasi?
Kalau hingga hari ke-13, pelak­sanaan imunisasi campak rubela (Measles Rubella/MR) secara serentak untuk siswa PAUD, SD dan SMP di Pulau Jawa tercatat sebanyak 12.576.729 anak telah diimunisasi. Dengan kata lain imunisasi MR yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 1 Agustus 2017 lalu di Sleman, Yogyakarta, itu telah mencapai 35,97 persen dari total sasaran anak yang akan diimunisasi.

Memang berapa target pem­berian imunisasi MR ini?
Nanti diharapkan pada hari ke-30 diharapkan sudah 95 persen anak-anak di Pulau Jawa diberi­kan perlindungan vaksin MR. Saya kira ini sesuatu yang bagus dan antusiasme masyarakat un­tuk membawa anaknya vaksin cukup besar dibandingkan imu­nisasi yang lainnya. Untuk bulan Agustus di hari ke-13 saja kita sudah mencapai 35,97 persen, artinya kami optimis mencapai minimal 95 persen untuk imu­nisasi MRdi Pulau Jawa.

Cakupan imunisasi MR ter­banyak di daerah mana saja?
Untuk saat ini sih ada di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 3,007 juta anak atau sekitar 39,26 persen dari total sasa­ran yang harus diimunisasi. Kemudian menyusul Jawa Barat sebanyak 4.38 juta atau sekitar 35,57 persen, Yogyakarta 35,67 persen, dan Jawa Timur 37,47 persen. Sementara cakupan terendah ada di DKI Jakarta sebanyak 700.000 anak dengan persentase 28.61 persen.

Lho kenapa DKI Jakarta malah terendah?
Kami maklumi kalau DKI Jakarta rendah, karena mereka imunisasinya per hari. Sekolah mengirimkan surat kepada orang tua bahwa anak-anaknya akan diimunisasi. Meski terlambat, tapi kami yakin DKI Jakarta lebih mudah untuk mencapainya.

Terus bagaimana upaya pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa imunisasi ini benar-benar aman?
Saya selalu mengatakan bahwa program kesehatan yang paling eksis di Indonesia adalah imu­nisasi. Anda pernah mendengar cacar? Kita mengenal cacar itu sejak zaman Soekarno menjadi presiden, di situlah eksitensi pro­gram kesehatan dimulai. ***

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya