Berita

Hassan Rouhani/BBC

Dunia

AS Terus Jatuhkan Sanksi, Iran Bisa Hidupkan Lagi Program Nuklir

SELASA, 15 AGUSTUS 2017 | 18:06 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat yang terus menjatuhkan sanksi kepada Iran bisa membuat negara tersebut kembali menghidupkan program nuklirnya dalam hitungan jam.

Ancaman itu dikeluarkan oleh Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pernyataanya di hadapan parlemen, Selasa (15/8). Pernyataan itu dibuatnya sebagai tanggapan atas sanksi unilateral Amerika Serikat baru-baru ini.

"Mereka (AS) yang mencoba kembali ke bahasa ancaman dan sanksi adalah tahanan dari delusi masa lalu mereka," kata Rouhani.


"Jika mereka (AS) ingin kembali ke pengalaman itu, pasti dalam waktu singkat, bukan berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tapi dalam skala jam dan hari, kita (Iran) akan kembali ke situasi kita sebelumnya yang jauh lebih kuat," sambungnya seperti dimuat BBC.

Bagi Iran, sanksi tersebut merusak perjanjian nuklir yang telah ditandatangani Iran dan negara-negara kekuatan dunia tahun 2015 lalu.

Namun Amerika Serikat menilai bahwa Iran telah melanggar resolusi PBB dengan uji coba misil nya. Padahal uji coba itu dirancang bukan untuk membawa ancaman melainkan untuk perdamaian.

Meski Amerika Serikat mengakui bahwa pengujian tersebut bukan merupakan pelanggaran langsung terhadap kesepakatan nuklir, namun negeri Paman Sam tetap memberlakukan sanksi terhadap 25 individu dan entitas yang terkait dengan program rudal dan kekuatan Pengawal Revolusi yang berkuasa.

Sanksi lebih lanjut yang menargetkan enam perusahaan Iran diumumkan pada akhir Juli setelah peluncuran roket Iran yang mampu menempatkan satelit ke orbit.

Tak berhenti di situ, awal Agustus ini, Trump menandatangani undang-undang yang disahkan oleh Kongres yang mewajibkan presiden untuk menjatuhkan sanksi kepada individu yang memfasilitasi program rudal balistik Iran,

Lebih lanjut Rouhani menanggapi bahwa dunia telah dengan jelas melihat Trump bukan merupakan mitra yang baik atau negosiator yang andal. Sejumlah hal yang bisa dilihat adalah dengan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris dan membalikkan kesepakatan dengan Kuba. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya