Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Bank Darah Yaman Bisa Tutup Dalam Sepekan Ke Depan

SABTU, 12 AGUSTUS 2017 | 13:13 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Bank darah Yaman telah mengirimkan sebuah seruan mendesak kepada dunia internasional bahwa blokade di ibu kota, Sanaa, dapat memaksa pihak tersebut untuk tutup dalam waktu satu miggu.

Direktur Pusat Transfusi Darah Nasional, Dr Adnan al-Hakimi, mengatakan bahwa krisis tersebut muncul setelah badan amal medis Prancis Medecins Sans Frontieres (MSF) menginformasikan kepada bank bahwa pihaknya menangguhkan bantuannya setelah lebih dari dua tahun bekerja.

"Kami memohon kepada semua organisasi kemanusiaan di masyarakat internasional dan semua donor keuangan untuk mendukung pusat tersebut, karena persediaan medis kami hampir habis," kata Hakimi.


"Kami hanya bisa bekerja satu minggu lagi, dan setelah itu jika organisasi kemanusiaan tidak memobilisasi untuk mendukung pusat nasional, itu akan ditutup," sambungnya.

Bank darah mengatakan bahwa pihaknya merawat sekitar 3.000 orang Yaman sebulan yang menderita kanker, gagal ginjal, dan talasemia, kelainan darah yang mewarisi yang menyebabkan anemia berat.

Tapi kombinasi perang, penyakit, dan kelaparan telah membuat bank tersebut berjuang untuk memenuhi permintaan spiral, dengan persediaan dasar tidak dapat diamankan di sebuah negara yang terkunci oleh blokade pelabuhan dan bandara.

"Kami telah terkena dampak situasi keseluruhan di Yaman, termasuk keruntuhan ekonomi," kata Hakimi.

Kurang dari separuh rumah sakit Yaman masih bertahan dua tahun dalam perang antara pemberontak Houthi yang didukung Iran, yang menguasai Sanaa, dan sebuah pemerintahan yang bersekutu dengan koalisi militer Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Bandara internasional utama di Sanaa juga diblokade, dengan akses terbatas pada beberapa penerbangan bantuan PBB yang dipilih oleh koalisi pimpinan-Saudi, yang mengendalikan wilayah udara.

Perang tersebut telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur Yaman dan mendorong negara tersebut sampai ke ambang kelaparan resmi.

Lebih dari 8.300 orang tewas dalam konflik tersebut dengan 47.700 orang terluka dan jutaan lainnya mengungsi, menurut WHO. Wabah kolera juga telah merenggut nyawa sekitar 2.000 orang Yaman dalam waktu kurang dari empat bulan terakhir. [mel]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya