Berita

Tjahjo Kumolo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Tjahjo Kumolo: Beberapa Ormas Di Daerah Diduga Anti-Pancasila, Sekarang Lagi Dikaji Serius

SABTU, 12 AGUSTUS 2017 | 09:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah membubarkan or­ganisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dalam waktu dekat pemerintah akan membubarkan beberapa organ­isasi kemasyarakatan lainnya yang diduga juga berideologi anti-Pancasila. Namun, organ­isasi kemasyarakatan yang bakal dibubarkan bukan di tingkat nasional, melainkan hanya di tingkat provinsi.

Sebelumnya, pemerintah telah membubarkan HTI. Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM mencabut status badan hu­kum organisasi kemasyarakatan HTI. Selain bicara soal pembuba­ran organisasi kemasyarakatan, Mendagri juga menanggapi usulan DPR yang meminta ang­garannya dinaikan dalam pen­gajuan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Berikut penuturan lengkap Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo;

Setelah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia, kabarnya pemerintah beren­cana membubarkan beberapa organisasi lainnya?
Iya, ini memang ada beber­apa ormas kecil tapi skupenya provinsi. Dari Kemendagri sudah melakukan penelaahan, sedang kita sharing pada Badan Intelijen Negara, Kepolisian, Kejaksaan, dan nanti hasilnya kita lapor­kan pada Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan. (Tapi) harus dilihat dulu bukti kesaksiannya, rekaman video, suara, gambar yang membuk­tikan bahwa dia anti-Pancasila atau ideologi lain atau aktivi­tas-aktivitas yang tidak sesuai Pancasila. Dihadiri berapa orang saksi, enggak bisa katanya. Ada di beberapa provinsi mereka punya kegiatan. Karena (ini juga) level provinsi, ya dikoordinasikan ke daerah dahulu, apa bukti dan data-datanya, klarifikasinya. Jadi tidak bisa serta merta. Harus ada proses yang panjang, kemudian dirapatkan dan dianalisa dulu

Iya, ini memang ada beber­apa ormas kecil tapi skupenya provinsi. Dari Kemendagri sudah melakukan penelaahan, sedang kita sharing pada Badan Intelijen Negara, Kepolisian, Kejaksaan, dan nanti hasilnya kita lapor­kan pada Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan. (Tapi) harus dilihat dulu bukti kesaksiannya, rekaman video, suara, gambar yang membuk­tikan bahwa dia anti-Pancasila atau ideologi lain atau aktivi­tas-aktivitas yang tidak sesuai Pancasila. Dihadiri berapa orang saksi, enggak bisa katanya. Ada di beberapa provinsi mereka punya kegiatan. Karena (ini juga) level provinsi, ya dikoordinasikan ke daerah dahulu, apa bukti dan data-datanya, klarifikasinya. Jadi tidak bisa serta merta. Harus ada proses yang panjang, kemudian dirapatkan dan dianalisa dulu

Memang ada berapa organ­isasi kemasyarakatan sih yang bakal dibubarkan?
Saya belum bisa sebutkan.

Ada puluhan jumlahnya?

Enggak, enggak di bawah lima kok. Skalanya kecil saja.

Ormas-ormas itu ada di daerah mana saja?
Ya dia punya gerakan di lebih dari 4-5 provinsi di Pulau Jawa.

Ormas apa saja itu?
Jangan dulu dong, kecil, tidak berskala nasional. Pak Dirjen (Direktur Jenderal) Polhuk (Politik, Hukum, dan Keamanan) sudah laporan ke saya, ini perlu data yang akurat.

Pergerakan ormas ini ba­gaimana?
Nanti nanti. Kalau Anda cer­mat, pernah dilempar kepoli­sian juga kok. Kan harus kita klarifikasi, ada bukti yang kuat, begitu saja. Karena HTI aja kan 10 tahun dicermati, kita cross ke semua.

Prediksi berapa lama lagi akan resmi dibubarkan?
(Saya) Belum (bisa) janji.

Soal lain. Terkait ditetap­kannya Ketua DPRD Malang, Jawa Timur, sebagai tersang­ka?
Saya cukup kaget ya karena rakor (rapat koordinasi) asosiasi Wali Kota se-Indonesia ditem­patkan di Kota Malang, saya hadir, pimpinan KPK hadir, Bapak Presiden hadir. Dipilihnya Malang sebagai tuan rumah rakor itu, karena kota tersebut dianggap memiliki prestasi. Contohnya dari segi e-planning dan budget­ing. Ternyata itu juga tidak menu­tup kemungkinan bahwa yang dikemas bagus ternyata di tahun 2015 juga terjadi indikasi.

Kalau sudah menggunakan e-planning dan e-budgeting kok masih ada saja celahnya?

Semua masih berputar pada masalah perencanaan anggaran, perencanaan anggaran yang di mark up, dan lain-lain. Semua kan masih ada perjalanan angga­ran, dana hibah bansos, retribusi pajak, kemudian masalah pem­belian barang dan jasa, sampai yang dibongkar KPK adalah jual-beli jabatan. Ternyata dari tahun ke tahun tidak berkurang, tapi meningkat. Itulah yang saya kira KPK menggebrak semua daerah beliau (KPK) masuk.

Terus bagaimana dengan KPK yang melakukan pen­indakan hingga ke daerah?
Setidaknya ini memacu in­spektorat daerah lah, memacu Kejaksaan di daerah, Kepolisian di daerah lebih proaktif. KPK kan arahnya sebagai super­visi harusnya, tapi enggak jalan, maka KPK masuk.

Oh ya soal lainnya. DPR mengajukan penambahan kenaikan anggaran, menurut Anda itu layak enggak sih?
Saya kira DPR mengaju­kan anggaran sudah dipertim­bangkan dari berbagai aspek. Apapun, hak budget itu dibahas bersama pemerintah dan DPR. Pemerintah menghargai usulan dari DPR, DPR juga memahami dan menghargai apa yang diusul­kan untuk menyusun RAPBN 2018 maupun sebelumnya.

Saya kira yang penting bisa dipertanggungjawabkan. Soal layak atau tidak, saya kira DPR yang lebih tahu.

Tetapi kenaikan anggaran yang diajukannya cukup besar lho sampai Rp 7,25 triliun...
Saya yakin DPR mengaju­kan anggaran tidak main-main. Sudah sesuai kebutuhan yang ada, perkiraan yang ada. Bagi pemerintah saya yakin sepa­njang itu visible bisa diper­tanggungjawabkan saya kira enggak ada masalah. Tinggal masyarakat menilai saja, saya yakin DPR tidak akan bisa main-main lagi.

Memang tambahan angga­ran itu nantinya akan diguna­kan DPR untuk apa saja sih?

Dia (DPR) mengajukan angga­ran entah itu untuk rehab gedung karena gedung yang ditempati anggota ini dari sisi keamanan yang dulu hanya untuk 2-3 orang sekarang dengan staf ahlinya satu ruangan bisa untuk 4-5 orang. Ini kan ada sedikit gempa akan sangat mengharap­kan. Mungkin pertimbangannya itu aspek keamanannya. Saya kira pemerintah saya yakin bisa memahami.

Terakhir, terkait pilgub, persiapan PDI Perjuangan bagaimana?
Kalau partai jangan tanya saya, tanya partai saja. ***

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya