Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Perang Korea Versi Baru Dikhawatirkan Libatkan Senjata Nuklir

JUMAT, 11 AGUSTUS 2017 | 15:48 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Setiap konflik baru dengan Korea Utara kemungkinan akan meningkatkan penggunaan senjata nuklir di negara tersebut. Hal itu jelas berpotensi menimbulkan bencara serta korban terbesar pasca Perang Dunia II.

Begitu kata sejumlah analis dan pengamat, di tengah situasi tegang pasca Korea Utara mengancam akan melepaskan rudal ke Guam, wilayah Amerika Serikat di Pasifik.

Di tengah ketegangan saat ini, militer Amerika Serikat menegaskan bahwa pihaknya tidak melihat bukti adanya peningkatan kewaspadaan di Korea Utara. Karena itulah, tidak ada perubahan yang dilakukan AS dalam hal kesiapan postur militernya di Korea Selatan atau tempat lain di Asia.


Kendati demikian, analis memperingatkan bahwa sikap dari Korea Utara bisa jadi bukan gertakan semata dan berpotensi menciptakan konflik jauh melampaui skala Perang Korea periode 1950-53, yang merenggut nyawa lebih dari 50.000 orang Amerika dan jutaan warga Korea. Perang tersebut berakhir dengan perjanjian gencatan senjata dan bukan perjanjian damai.

"Hal utama yang orang bicarakan adalah salah perhitungan, kita dapat dengan mudah tersandung sesuatu dengan retorika yang sangat panas," kata Philip Yun, seorang pakar Korea yang merupakan penasihat Asia di bawah mantan Presiden Bill Clinton.

Yun, yang saat ini menjabat sebagai direktur eksekutif Ploughshares Fund mengatakan bahwa resiko tersebut diperburuk oleh masalah kredibilitas yang diperoleh Trump karena seringnya ucapan "nyeleneh" dan tidak terukur.

"Dalam pencegahan nuklir, kredibilitas adalah segalanya dan ada situasi bahwa jika tidak ada yang menganggap Anda serius, Anda harus melakukan sesuatu untuk memastikan Anda dianggap serius, dan di situlah salah perhitungan dapat terjadi," kata Yun seperti dimuat Reuters.

Dengan ratusan ribu tentara dan persenjataan besar yang tersusun di kedua sisi zona demiliterisasi yang tegang, semenanjung Korea telah lama menjadi semacam kotak yang mudah terbakar.

Jika terjadi bentrokan konvensional dapat menyebabkan korban bencana, mengingat ribuan barang artileri Korea Utara berada di sepanjang perbatasan, setidaknya 1.000 di antaranya mampu mencapai ibukota Korea Selatan Seoul yang padat penduduknya dan wilayah metropolitannya di mana ada 25 juta orang berada.

"Akan sangat sulit untuk menghilangkan ancaman itu sebelum tembakan artileri dapat menciptakan banyak kerusakan di sisi selatan," kata David Shear, yang bertugas sebagai pejabat pertahanan senior AS untuk Asia Timur.

"Saya mengambil proyeksi korban ribuan sampai puluhan ribu dengan cukup serius dan itu baru di Korea Selatan. Mungkin saja Korea Utara juga bisa menyerang Jepang," pungkasnya. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya