Berita

Pertahanan

Indonesia Dan Filipina Duduk Bareng Bahas Pemberantasan Terorisme

KAMIS, 10 AGUSTUS 2017 | 20:08 WIB | LAPORAN:

Indonesia bersama Filipina menggelar pertemuan untuk membahas masalah pemberantasan terorisme.

Pertemuan bertajuk 1st Meeting of Joint Working Group on Combat International Terrorism merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan Anti Terrorism Council (ATC) pada Mei 2014.
 
"Sejak MoU ditandangani memang belum ada implementasi. Sekarang, apalagi dengan adanya kejadian di Marawi dan kejadian-kejadian lain di Filipina Selatan kita menngambil inisiatif untuk melaksanakan pertemuan kerja sama yang pertama, tentunya dengan isu-isu masalah yang ada di Filipina," jelas Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius kepada wartawan di Hotel Aryaduta, Jakarta (Kamis, 10/8).


Menurut Suhardi, dirinya sudah berbicara langsung dengan pimpinan delegasi Filipina agar kedua negara lebih banyak berbagi pengalaman juga informasi dalam penanganan masalah terorisme.
 
"Kita banyak sharing dan kita akan bertukar pengalaman dan juga informasi untuk menangani masalah terorisme. Tentunya informasi dan pengalaman mengenai apa yang sudah pernah kita kerjakan yang mungkin saja berguna buat Filipina," ujarnya.
 
Mantan kepala Bareskrim Polri tersebut mengatakan, dalam pertemuan banyak hal yang disimak oleh delegasi Filipina, seperti mengenai bagaimana Indonesia mengemas dan mengatasi kemajemukan yang ada.

"Kita bisa menyatukan kemajemukan itu semua dan pihak Filipina sangat mengapresiasinya. Oleh sebab itu, ada banyak langkah strategis yang bisa kita laksanakan. Minimal kita bisa mereduksi radikalisme dan juga hal-hal yang tidak baik di Filipina," beber Suhardi.
 
Selain dengan Filipina, BNPT juga dimungkinkan akan menggelar pertemuan serupa dengan Malaysia dan Brunei Darussalam.

"Ini kan kerja sama bilateral, dalam artian MoU antara Indonesia dengan Filipina. Dengan Malaysia dan Brunei nantinya juga akan dilaksanakan karena spesifikasi masalahnya berbeda-beda," kata Suhardi. [wah]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya