. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di bawah kepemimpinan Giwo Rubianto Wiyogo terus berkreasi, berinovasi dan berimprovisasi dalam membawa bahtera Kowani sebagai rumah perjuangan untuk meneruskan cita-cita para "founding mother".
Demikian disampaikan Giwo dalam acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di gedung Lemhanas, Jakarta, Rabu (9/8). Hadir dalam acara itu Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa.
Jelas Giwo, berdasarkan Kongres Perempuan ke II tahun 1935, bahwa Kowani mengemban mandat sebagai "ibu bangsa". Bagi Giwo pada khususnya dan perempuan Indonesia pada umumnya, mandat ini dirasa masih cenderung menjadi hutang moral.
Alasannya karena beberapa hal sebagai berikut: nasionalisme yang semakin pudar dan cenderung menurun; kecintaan terhadap produk, budaya nasional budaya bangsa dan hampir semua yang berbau Indonesia tidak begitu diminati oleh generasi muda Indonesia; kenakalan remaja, genk motor, pergaulan bebas vandalisem, dan suka mebantah orang tua; narkoba, mabuk-mabukan dan dugem; budaya instant, ingin hidup nikmat tanpa proses yang selayaknya; prostitusi online dan sejenisnya; tenaga kerja wanita dan PRT yang berkonotasi rendah disertai kekerasan seksual.
Selanjutnya, angka putus sekolah dan penganguran yang sangat tinggi; wajib sekolah yang tidak terwujud, karena banyaknya anak dipekerjaan; tingkat pendidikan dan kepengasuhan terhadap akhlak mulia dan budi pekerti yang semakin menurun; derasnya pengaruh dan penetrasi budaya asing melalui berbagai macam dimensi, misalnya media sosial/ICT yang tidak mampu dihalau alias difilter oleh pemerintah menyebabkan tergerusnya budaya lokal; lemahnya sinergitas antar lembaga, masyarat, pemerintah dan institusi kependidikan sehingga melahirkan rapuhnya dan lemahnya daya saing para lulusan pendidikan; AKI yang masih tinggi terutama sebagai akibat perkawinan dini dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi; rendahnya minat baca menyebabkan tingkat ketahanan informasi kita rentan terhadap hoax dan propaganda murahan yang mengarah pada pertikaian dan perpecahan serta konflik yang bernuansa SARA; dan jiwa ksatria/patriotic, sikap rela berkorban, semangat juang serta rasa nasionalisme yang dangkal menyebabkan mudah sekali mencemoooh pemerintah dan rawan conflick horizontal.
Menurut Giwo, dari beberapa hal tersebut, maka kewajiban dan tugas "ibu bangsa" adalah menyiapkan generasi muda atau generasi penerus yang memiliki kriteria unggul dan bewawasan nasional, dalam artian memiliki inovasi, kreasi, daya saing yang unggul berwawasan kebangsaan terutama memiliki semangat patriotik dan nasionalisme yang tinggi yang mampu membawa bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa yang lain.
"Jika memperhatian poin-poin tadi maka tugas sebagai 'ibu bangsa' sungguh sangat berat, tetapi saya tidak mau menyerah dan berkeluh kesah saja, melainkan pada kesempatan ini, kembali saya mengingatkan dan menyadarkan kepada kita semua bahwa mewujudkan 'ibu bangsa' bukanlah pilihan tetapi kewajiban yang sangat mulia demi tetap tegak dan eksisnya negara dan bangsa Indonesia. Untuk itu saya menawarkan strategi bahwa 'ibu bangsa' adalah himpunan dari keseluruhan perempuan yang menikah dan mempunyai anak, perempuan yang menikah walaupun tidak punya anak, dan perempuan yang tidak menikah serta seluruh perempuan," ungkapnya.
Pada Mukernas tersebut, Giwo melaporkan tentang terobosan dan komitmen Kowani periode 2014-2019.
Memperjuangkan disahkan UU PRT dan penghapusan kekerasan seksual pada perempuan dan anak; bersama organisasi anggota dan mitra terus melakukan perang terhadap narkoba; jalan sehat yang telah dilaksanakan selama dua tahun yaitu 2015 dan 2016 yang melibatkan masyarakat luas untuk dapat menjadi agen perubahan yang tahu, mau dan mampu berperan serta dalam menurunkan angka kematian Ibu; Kowani Fair yang telah dilaksanakan sejak tahun 2000, dan dimaksudkan untuk meningkatan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui sektor UKM.
Gerakan perempuan sahabat pengendalian perubahan iklim yang memberikan wadah dan arah tentang porsi serta keterlibatan perempuan yang kongkrit, berkomitmen dan konsisten menuju perbaikan iklim berupa penanaman bakau dan terumbu karang; langkah sinergitas Kowani, dengan mitra kerja dan organisasi perempuan melalui connecting women; pembuatan buku 11 Windu Kowani tahun 2016 dengan judul "Sebelas Windu Kowani Mengukir Bakti"; mengusulkan Laksamana Malahayati menjadi pahlawan nasional pada bulan Juni 2017 dengan menghimpun rekomendasi dari kementerian, organisasi anggota Kowani dan mitra Kowani dan dilanjutkan dengan mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi X DPR RI; peluncuran Perangko Kowani pada tanggal 1 Juni 2017; gerakan perempuan menulis, Kowani akan terus mengerakkan perempuan untuk menulis dan ikut mencerdaskan bangsa melalui menulis serta public speaking; dan mengusulkan calon peserta didik di Lemhanas dari unsur Kowani.
Lanjut Giwo, adapun beberapa penghargaan yang didapatkan: mendapat anugerah Bunda PAUD dari Ibu Negara pada tanggal 26 September 2016; mendapatkan penghargaan outstanding women organization dari Kerajaan Thailand; pertama kali mendapatkan kesempatan mengadakan side event pada acara CSW ke 60 di Markas Besar PBB NY; dan pada tahun 2018 mendatang akan menjadi Tuan Rumah penyelenggaraan General Assembly organisasi internasional ICW yang akan dilaksanakan bulan September 2018.
[rus]