Setidaknya ada tiga strategi kreatif yang dapat dijalankan dalam menghadapi tingkat kemacetan tinggi di ibu kota negara maupun ibu kota daerah. Agar masyarakat tetap dapat meningkatkan daya saing dan efektivitas kerja meski di tengah kemacetan.
"Era teknologi dan tingginya kemacetan di ibu kota kini justru dapat meningkatkan daya saing dan efektivitas masyarakat menjadi lebih baik," ujar praktisi strategi inovasi dari Mata Garuda Ferro Ferizka dalam keterangannya, Selasa (8/8).
Dia menuturkan, tiga strategi kreatif saat ini tengah dikembangkan di banyak negara, khususnya kalangan tech startup sebagai salah satu antisipasi untuk meningkatkan daya saing industri dan efektivitas kerja.
"Sehingga kemacetan di jalanan ibu kota kini seharusnya bukan lagi menjadi penyebab rendahnya daya saing dan efektivitas kerja masyarakat. Sebab, bekerja dapat dilakukan di mana saja seefektiv dilakukan di ruang kerja atau kantor," jelas Ferro.
Dia menerangkan, ketiga strategi kreatif tersebut adalah pertama perlu adanya trust atau kepercayaan terhadap karyawan dan rekan setim untuk bisa bekerja di manapun. Hal ini menanamkan kepada setiap orang bahwa kepercayaan adalah hal mahal, merupakan hal mutlak yang harus diwujudkan.
Kedua, perlu adanya akuntabilitas yang jelas dan terdefinisi dengan baik tentang target capaian dan key performance index (KPI) dari masing-masing karyawan. Sehingga pemahaman bahwa karyawan adalah aset untuk perusahaan mencapai tujuan benar-benar terwujud. Dengan demikian, cara objektif untuk mengukur return on investment (ROI) terhadap suatu headcount adalah dengan mengukur output bukan berapa lama seorang pekerja berada di kantor.
"Memang tidak semua role atau pekerjaan bisa difleksibelkan. Profesi seperti security, maintenance mesin pabrik, operator mesin, manajer produksi harus ada di lokasi. Namun posisi-posisi revenue generating, lead/prospect generating, corporate strategy memiliki potensi untuk difleksibelkan," beber Ferro.
Ketiga, perlu adanya tools atau alat bantu teknologi yang dapat tetap mewujudkan visibilitas, komunikasi dan koordinasi dalam tim. Artinya, upaya menjelaskan visibilitas dilakukan dengan memiliki suatu single source of truth yang bisa menunjukkan capaian, KPI dari tim dan departemen. Hal ini penting supaya setiap tim member berbicara bahasa yang sama meskipun berada di lokasi berbeda.
"Selain itu, alat bantu sangat diperlukan untuk menjalin dan meningkatkan komunikasi antar tim sehingga progres pekerjaan dapat dimonitor secara transparan dan bertanggungjawab. Dan alat bantu juga sangat diperlukan dalam menjalankan koordinasi antar seluruh pihak terkait," kata Ferro.
Dia menambahkan, tiga strategi kreatif tersebut merupakan cara untuk menerapkan gaya kerja fleksibel yang kini mulai harus diangkat ke permukaan. Mengingat, kehidupan masyarakat perkotaan dan juga kini di pedesaan memiliki tingkat kemacetan jalanan yang tinggi.
Ferro mencontohkan, salah satu perusahaan kaliber dunia yang menerapkan gaya kerja fleksibel adalah Microsoft. Dengan penyebaran hingga seluruh dunia, dapat dipastikan perusahaan itu memiliki tingkat reputasi baik serta kesibukan sangat tinggi. Namun, implementasi gaya kerja fleksibel menjadi semangat Microsoft dalam meningkatkan daya saing serta efektivitas pekerjanya.
"Dengan menerapkan ketiga strategi ini, setiap pekerja akan mampu bekerja efektif. Baik bagi perusahaannya dengan tetap tidak mengorbankan kesehatan diri sendiri maupun kebahagiaan keluarga. Ini strategi kreatif yang menjadi solusi di era teknologi dan kemacetan saat ini," imbuhnya.
[wah]