Berita

Nyonya Meneer/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

Pemailitan Nyonya Meneer

SELASA, 08 AGUSTUS 2017 | 10:15 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TERBERITAKAN  bahwa Pengadilan Negeri Semarang menyatakan PT Nyonya Meneer pailit. Produsen jamu itu digugat pailit oleh PT Nata Meridian Investara. PT Nyonya Meneer dinyatakan memiliki kredit macet sebesar Rp 89 miliar.

Vonis

PT Nyonya Meneer selama persidangan berlangsung terbukti tidak sanggup membayar utang. Akhirnya, majelis hakim PN Semarang yang diketuai hakim Nani Indrawati menyatakan PT Nyonya Meneer pailit.


“Menyatakan batal perdamaian yang disahkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang yang dituangkan dalam Putusan Pengesahan Perdamaian Nomor: 01/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.Smg., tanggal 01 Juni 2015. Menyatakan termohon pailit dengan segala akibat hukumnya,” kata hakim Nani dalam amar putusannya yang dibacakan Kamis 3 Agustus 2017.

Setelah itu, majelis hakim menunjuk hakim pengawas untuk mengawal proses kepailitan PT Nyonya Meneer. Kurator yang ditunjuk akan segera menilai aset yang dimiliki PT Nyonya Meneer untuk dijual.  

Pailit


Sebagai seorang pengusaha jamu yang sedang berupaya memperjuangkan jamu agar dihormati dan dihargai sebagai mahakarya kebudayaan kesehatan Nusantara, jelas bahwa berita pemailitan sebuah perusahaan jamu merupakan suatu pukulan sangat memprihatinkan.  

Pailit dimaknakan secara negatif oleh Kamus Hukum Black’s sebagai istilah yang digunakan untuk seorang pedagang yang bersembunyi atau melakukan tindakan tertentu yang cenderung mengelabuhi pihak kreditornya. Sementara pada Pasal 1 butir 1 undang-undang kepailitan, ditegaskan bahwa kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas. Pasal 1 butir 4, debitor pailit adalah debitor yang dinyatakan pailit dengan keputusan pengadilan.

Sejarah perundang-undangan kepailitan di Indonesia telah dimulai hampir 100 tahun yang lalu sejak 1906, sejak berlakunya “Verordening op het Faillissment en Surceance van Betaling voor de European in Indonesia” sebagaimana dimuat dalam Staatblads 1905 No. 217 jo. Staadblads 1906 No. 348 Fallissementverordening.  

Pada tanggal 20 April 1998, pemerintah telah menetapkan Peraturan Perundangan Pemerintah Pengganti UU No. 1 tahun 1998 tentang perubahan atas UU tentang Kepailitan yang kemudian disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat menjadi UU No. 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU tentang Kepailitan tanggal 9 September 1998 .

Pembelajaran


Pimpinan PT Nyonya Meneer, Charles Saerang menyatakan kepada saya bahwa beliau segera memproses naik banding ke Mahkamah Agung dalam menghadapi keputusan majelis hakim PN Semarang. Setelah mempelajari UU Kepailitan yang berlaku di Indonesia, maka saya dapat mengambil kesimpulan bahwa pada hakikatnya tujuan UU Kepailitan melindungi kepentingan para pemberi hutang dari keengganan para penerima hutang melunaskan hutang. Namun di sisi lain selalu ada celah-celah dalam hukum yang dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu yang belum tentu konstruktif dalam makna keadilan.

Sebagai sesama pengusaha jamu, saya mengharapkan PT Nyonya Meneer di bawah pimpinan Charles Saerang segera dapat membebaskan diri dari kemelut musibah yang sedang dihadapi. Di sisi lain, falsafah Ojo Dumeh menyadarkan bahwa musibah senantiasa dapat terjadi kapan saja bagi siapa saja.

Pada hakikatnya, kasus pemailitan PT Nyonya Meneer merupakan suatu bentuk pembelajaran bagi dunia usaha (bukan hanya jamu namun bagi semua jenis usaha bahkan termasuk pemerintah dalam menghadapi IMF dan para pemberi hutang) untuk lebih memperhatikan permasalahan terkait utang-piutang yang memang merupakan bagian hakiki dari kehidupan bisnis yang memang sarat kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah. [***]

Penulis adalah Presiden Komisaris Jamu Jago

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya