Berita

Politik

Baju Adat Basofian, Warisan Budaya Sang Gubernur Jawa Timur

SENIN, 07 AGUSTUS 2017 | 15:38 WIB | OLEH: COKRO WIBOWO SUMARSONO

KABAR duka tersebar luas di jagad maya, berita lelayu atas kepergian salah satu putra terbaik bangsa itu menghentak publik Jawa Timur. Sang Gubernur telah tiada. Meninggalkan beragam kenangan suka duka yang cukup mendalam.

Putra pejuang kemerdekaan itu telah meninggalkan kita semua, asal sepi bali marang sepi, kembali ke pangkuan Sang Maha Pencipta.

Basofi Sudirman adalah simbol penyatuan antara ketegasan dan kelembutan sekaligus. Seorang jenderal yang ditempa oleh kerasnya aturan kedisiplinan khas keluarga militer. Di sisi lain jiwa seni Sang Gubernur mengalir deras bak aliran kali Brantas yang membelah propinsi di ujung timur pulau Jawa tersebut.


Lantunan tembang Tidak Semua Laki-Laki selalu mengiringi sambutan dan pidato resmi Sang Gubernur di banyak momentum. Sangat berfungsi guna mencairkan suasana protokoler birokrat yang kerap terjadi pada era kuasa Orde Baru.

Basofi Sudirman berhasil mengangkat derajat musik dangdut yang sangat digemari masyarakat pinggiran menjadi konsumsi umum segala lapisan. Mantan Gubernur Jawa Timur ini telah berhasil mengharmonisasikan banyak elemen politik dengan cara menyanyi dangdut bersama para stakeholders.

Warisan Sang Gubernur yang tak kalah penting adalah baju adat khas Basofian. Disebut demikian karena hampir di setiap acara resmi Basofi Sudirman selalu menggunakan pakaian adat yang telah didesain ulang sesuai dengan perkembangan jaman tersebut. Pakaian adat ala Basofian merupakan pakaian hasil kreasi baru yang menggabungkan beberapa unsur pakaian adat asli Jawa Timuran.

Baju hitam mewakili unsur Islam Kejawen, yang banyak dianut oleh masyarakat Jatim di pedalaman, pegunungan dan pesisir selatan. Kain jarit bermotif khas pesisiran mewakili unsur tradisi pakaian adat pesisir utara Jawa Timur. Blangkon khas Suroboyoan mewakili unsur budaya subkultur Madura, Jenggala dan Pendalungan.

Rantai jam di saku merupakan simbol persatuan segenap subkultur yang mendiami wilayah Jawa Timur. Jam adalah simbolisasi dari prinsip kerja keras, kerja cerdas dan kerja cepat ala Brang Wetanan.

Sebuah penanda bagi pemakainya yang selalu menghargai waktu, seperti yang tergambar dalam motif ikonik relief Kala di candi-candi Jawa Timuran. Bentuk jam yang bundar mengingatkan akan prinsip Cakramanggilingan khas tradisi Jawa.

Lengan panjang dan kerah pendek mewakili unsur pesantren yang biasa menggunakan pakaian koko, menunjukkan spirit religiusitas yang senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat di propinsi ini. Kancing baju besar-besar di tengah dada menunjukkan sikap terbuka dan lambang keperwiraan. Mengingatkan kita kepada jargon politik Bung Karno dalam menghadapi bangsa penjajah "ini dadaku, mana dadamu !"

Pakaian yang praktis dan tidak ribet menggambarkan karakter JawaTimuran yang tidak mbulet, selalu berbicara pada inti pokok permasalahan yang ada. Selop adalah model sandal semi sepatu yang mencirikan ketrengginasan orang lapangan, pantas dipakai di acara seremonial ataupun acara santai. Termasuk memudahkan pemakainya jika akan sembahyang di Masjid.

Baju adat Basofian sangat populer di kalangan seniman tradisi. Dipakai oleh dalang, pengrawit, wiraswara, pemain ludruk, pembawa acara (MC), ponang pinanganten kakung (pengantin pria), spiritualis, hingga para pemain hadrah. Sangat pantas dipakai dalam segala situasi seremonial mulai tingkat kampung hingga acara protokoler kenegaraan. Serta sangat layak digunakan oleh para lelaki di semua jenjang umur dan strata sosial.

Baju adat Basofian meleburkan basis massa abangan dan santri dalam satu kesatuan budaya. Baju adat Basofian adalah perlawanan kultural terhadap tesis Clifford Gertz yang membelah pulau Jawa dalam kategorisasi Abangan, Priyayi dan Santri. Baju adat Basofian adalah wujud kecerdasan wong Jawa Timur yang cinta akan persatuan serta tidak mau dibenturkan dengan saudara sendiri se petarangan.

Baju adat Basofian merupakan bukti lapangan bahwa rakyat Jawa Timur bisa menjadi model percontohan persatuan nasional. Baju adat tersebut dipopulerkan oleh Basofi Sudirman mantan Gubernur Jawa Timur. Baju ini merupakan gabungan bentuk dari beskap, surjan, baju koko dan blazer sekaligus. Cara cerdas dalam menangkap kemajuan jaman.

Selamat jalan Jenderal lapangan, kangen laku blusukan nir pencitraanmu. Tetesan airmata sebagai tanda dukacita mendalam para pelaku budaya atas kepergianmu Sang Jenderal Kebudayaan.

Mari kita kibarkan bendera setengah tiang di tiap halaman dan perempatan![***]



Glugu Tinatar, Landungsari Malang


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya