Berita

Politik

Peralihan Pengelolaan Asuransi Dinilai Rugikan TKI

SENIN, 07 AGUSTUS 2017 | 10:45 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tenaga kerja Indonesia (TKI) merupakan bagian dari rakyat Indonesia yang perlu dilindungi pemerintah secara maksimal selama berada di luar negeri. TKI bukan sebuah komoditas, yang dalam penanganannya harus menguntungkan secara finansial.

Begitu kata Koordinator Koalisi Relawan Bicara Jokowi-JK, Amirullah Hidayat menyikapi ucapan Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) Kementerian Ketenagakerjaan, Soes Hindharno, yang menganggap peralihan asuransi TKI yang dikelola konsorsium asuransi swasta ke jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan, lebih menguntungkan dengan alasan uang yang dikelola akan masuk ke kas negara.

"Kebijakan pemerintah terkait TKI ini bukan bicara untung nggak untung. Kalau dibilang 'ini untung materialnya, ini kerugiannya', sama saja negara seperti membisniskan TKI," ujar Amirullah dalam keterangan tertulis, Senin (7/8).


Amirullah mengatakan bahwa kebijakan pemerintah terkait TKI, harus berlandaskan semangat menyelesaikan segala persoalan yang dialami tenaga kerja. Baik itu masalah hukum, kesehatan, maupun permasalahan lain yang kerap melanda TKI. Bukan kemudian dilandaskan pada untung rugi yang dialami negara.

"Negara itu bukan lembaga profit yang mencari untung dari rakyatnya. Sudah setengah mati TKI kita pergi ke luar negeri buat bekerja, dicari untung pula, kan miris," kesalnya.

Lebih lanjut, Amirullah menilai bahwa peralihan asuransi TKI yang dikelola konsorsium asuransi swasta ke jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan telah merugikan TKI. Pasalnya, 13 item permasalahan yang sebelumnya bisa diklaim TKI ke konsorsium swasta, kini hanya enam yang bisa dipenuhi.

Amirullah menjabarkan bahwa peralihan itu membuat TKI tidak bisa lagi mendapat solusi mengenai risiko PHK, TKI dipindah tempat kerja tidak sesuai dengan perjanjian kerja, upah tidak dibayar, gagal berangkat, gagal ditempatkan bukan karena kesalahan TKI, pemulangan TKI bermasalah, hingga risiko menghadapi masalah hukum.

"Padahal tujuh item yang tak ditanggung merupakan persoalan yang kerap dialami TKI," ucapnya.

Amirullah juga menantang Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri untuk buka-bukan masalah peralihan dan perlindungan TKI tersebut. Selain itu, ia mengaku memproses hukum kebijakan ini ke pihak terkait, seperti lembaga yudikatif.

"Bila perlu Menteri (Ketenagakerjaan) debat terbuka dengan saya atau bila perlu diskusi di depan Presiden Jokowi. Biar terang-benderang, sehingga Presiden Jokowi tidak mendapatkan laporan ABS (asal bapak senang) saja," tandasnya. [ian]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya