Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Kata Fahri, Pegiat Anti Korupsi Gunakan Kasus Novel Sebagai Tameng

MINGGU, 06 AGUSTUS 2017 | 17:53 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Selain pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berpolitik dengan mengajukan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi (MK) atas keberadaan Pansus KPK, drama pengawasan KPK juga turut diwarnai dengan kehadiran penyidik senior KPK Novel Baswedan sebagai ikon perlawanan.

Begitu kata Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dalam kicauannya bertanda pagar #bedahKPK di akun Twitter @fahrihamzah, Minggu (6/8).

"Dalam keadaan diperiksa oleh DPR (melalui Pansus KPK), para aktivis anti korupsi akan menggunakan Novel Baswedan sebagai tameng hidup. Mulailah personalisasi bahwa Novel Baswedan adalah KPK dan KPK adalah anti korupsi dan Anti korupsi adalah Novel Baswedan," urainya.


Menurut Fahri, personalisasi itu juga yang menjadi ide di balik usulan pembentukan Tim Pencari Fakta. Hal itu merupakan cara lama yang digunakan pegiat anti korupsi untuk bertahan.

Lebih lanjut, Fahri juga menilai ada keistimewaan bagi para pegawai dan komisioner KPK saat tertimpa sebuah kasus. Bahkan dalam kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, sejumlah pegiat antikorupsi menghitung hari demi hari penyelesaian kasus tersebut.

"Setiap hari akan dihitung, penanganan perkara Novel Baswedan akan menjadi berita harian untuk menjaga nyala api pergerakan. Itulah salah satu blessing in disguise bagi KPK dan kelompok pergerakan ini untuk berjuang sampai akhir," urainya.

"Sekali lagi banyak yang gugur membela negara dan rakyatnya, nyaris tak terdengar sebagai pahlawan tanpa nama. Tiba-tiba gara-gara seorang Novel Baswedan ribut seluruh dunia gara-gara kena air keras yang alhamudlillah tak sempat hilangkan nyawa," sesal Fahri.

Menurutnya, KPK tidak adil kepada pejabat negara lain karena mengeksploitasi isu Novel sebagai isu bangsa Indonesia.

"Tapi inilah konsistensi perjuangan KPK membuat hanya KPK, pegawai dan pendukungnya yang relevan. Banyak pejabat negara dan PNS serta ASN merasa seperti kurang berharga, tetapi hanya KPK yang terpuja. [ian]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya