Berita

Didik J. Rachbini/Net

Politik

Didik J. Rachbini: Pertumbuhan Ekonomi Stagnan Di Bawah 5 Persen

SABTU, 05 AGUSTUS 2017 | 17:30 WIB | LAPORAN:

. Ekonom senior dari Institue for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J. Rachbini menilai ekonomi Indonesia berjalan di tempat dengan pertumbuhan di bawah 5 persen.

Didik mengatakan banyak kalangan menilai stagnasi ini diakibatkan perilaku konsumen yang telah beralih ke pasar online, sehingga daya beli di pasar konvensional berjalan di tempat. Tidak secara keseluruhan, namun anggapan tersebut benar adanya.

Menurutnya, kondisi stagnasi ekonomi Indonesia bisa dilihat dari angka penjualan kendaraan roda dua (motor) per triwulan. Motor dinilai sebagai alat ukur dalam pertumbuhan ekonomi di masyarakat menengah ke bawah. Selain itu, motor kini menjadi alat transportasi yang menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


"Kalau motor merakyat kan? Ada 10 juta diproduksi setiap tahunnya. Nah, penjualan motor di Indonesia itu saat ini minus 13 persen," ujar Didik saat diskusi bertajuk 'Daya Beli Menurun: Stagnasi atau Digitalisasi Ekonomi?' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8).

"Kalau motor kan tidak dijual di online. Dengan data ini apakah kita bisa mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita oke, daya beli oke? Saya kira dengan indikatif seperti ini, kita punya masalah yang harus kita cermati," tambahnya.

Lebih lanjut Didik menjelaskan, indikator lain yang menunjukkan kondisi ekonomi tidak mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah yakni 5 sampai 5,5 persen, yakni pembelian konsumsi saat Hari Raya Idul Fitri 2017, Akhir Juni lalu.

Biasanya, sambung Didik, 75 produk konsumsi saat Lebaran naik double digit, atau 11 hingga 12 persen. Namun saat Lebaran kemarin tidak bergerak dari kisaran dua hingga tiga persen.

Belum lagi mengenai konsumsi listrik yang mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Semula pertumbuhan listrik bisa delapan hingga sembilan persen, namun tahun ini hanya satu persen.

Jelas Didik, pemerintah semestinya bisa menjaga ekonomi politik. Dengan begitu, target pertumbuhan pemerintah bisa tercapai.

"Kalau itu dibereskan saya kira ekonomi kita masih bisa diatasi 5 persen menuju 6 persen," pungkasnya. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya