Berita

Politik

Pertemuan Hamzah Haz Dan PDIP Wujud Persaudaraan Islam Dan Nasionalis

SABTU, 05 AGUSTUS 2017 | 14:45 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Jalinan persaudaraan antara kaum nasionalis dan Islam harus diperkokoh dan dijaga sebagai pondasi kekuatan dalam membangun negara.
 
Demikian salah satu kesimpulan dalam diskusi dan silaturrahmi yang dilakukan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dengan Wakil Presiden ke-9 RI Hamzah Haz di kediaman tokoh partai PPP tersebut di Patra Kuningan, Jakarta (Sabtu, 5/8).

Hasto datang bersama Sekjen Bamusi Falah Amru serta sejumlah pengurus DPP PDI Perjuangan, dan rombobgan disambut langsung oleh Hamzah Haz bersama politikus senior PPP Habil Marati.
 

 
Hasto membawa oleh-oleh titipan dari Megawati berupa ayam goreng dan gudeg. Tak hanya itu, Mega juga menitipkan bukunya yang berjudul Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat serta Megawati dalam Catatan Wartawan Bukan Media Darling Biasa kepada Hamzah Haz.
 
Hasto mengatakan, kedatangannya ke kediaman Hamzah Haz dalam rangka silaturrahmi dan menyampaikan salam dari Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden ke-5 RI Megawati mengingat kepemimpinan yang dibangun Megawati-Hamzah Haz merupakan representasi kondisi nasional kita yang sebenarnya.
 
"Jadi meski saat itu katakanlah pasangan Megawati-Hamzah dikawain paksakan MPR tapi tali silaturrahim itu dibangun sangat baik sampai sekarang. Bahkan Pak Hamzah bilang ketika mau ambil keputusan dalam rapat kabinet Pak Hamzah pegang tangan Ibu Megawati. Menunjukkan betapa kompaknya kepemimpinan itu. Lalu rapat bisa mengambil keputusan yang baik dan kompak," ujar Hasto.
 
Hasto menjelaskan, kekompakan Megawati dan Hamzah ketika menjadi pemimpin bangsa Indonesia juga menjadi kekuatan bagi negara. Sebab ketika salah satu mengangkat alis saja dan ketika salah satu batuk saja, maka rakyat ikut batuk.
 
"Sangat disadari betapa pentingnya membangun soliditas dan persaudaraan di antara pemimpin nasional," jelas Hasto.
 
Hasto juga menyampaikan bahwa Mega sering bercerita dan menyampaikan bahwa Hamzah Haz adalah pakar politik anggaran. Dan dalam pertemuan ini Hamzah menyampaikan keprihatinan karena tax ratio masih rendah. Hamzah juga menuturkan nostalgia dengan Bung Karno dan ingat terinspirasi pidato Bung Karno yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang khas dan dibangun atas dasar Pancasila.
 
Pancasila juga dijalankan sangat baik. Misalnya prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dijalankan dengan adanya kementerian agama di mana seluruh perwakilana agama ada dalam satu naungan Kemenag.
 
"Dalam pertemuan ini kami juga berbicara persahabatan dan silaturrahmi antar pemimpin sangat penting. Dan itu dibangun untuk bangsa dan negara ditambah hubungan persaudaraan pribadi antarpemimpin yang sangat dekat sehingga menyatukan bangsa," imbuh Hasto.
 
Hasto menuturkan bahwa Hamzah juga bercerita bahwa Megawati adalah sosok yang kokoh dalam memegang prinsip. Contohnya ketika mendukung Palestina untuk menjadi bangsa yang merdeka seluas luasnya dan ini disampaikan dalam pidato PBB. Kemudian saat Abu Bakar Baasyir mau diekstradisi, jelas bahwa Megawati menolak dilakukan ekstradisi tersebut. Bahkan dalam soal Irak, Megawati adalah tokoh negara yang mendukung kebebasan Irak sebagai negara Islam untuk lepas dari cengkraman negara asing.
 
"Ini semua menjadi contoh hubungan sangat kuat dan persaudaraan yang erat. Antara Ibu Mega dan Pak Hamzah dan antara Islam dan Nasionalis. Teladan seperti ini harus dirawat dan dijaga dalam situasi kepemimpinan saat ini dan seterusnya," jelasnya.
 
Dalam benak Megawati, jelas Hasto, sosok Hamzah Haz adalah wapres dan tokoh negara yang sangat penting dalam masa reformasi. Karena itu Megawati memerintahkan semua kader PDI Perjuangan untuk memberikan perhatian kepada pejabat negaranya seperti Hamzah Haz terutama ketika sakit.
 
Dikatakan Hasto, dalam pertemuan ini Hamzah Haz juga menyampaiakan keperhatinan beliau karena bangsa Indonesia saat ini mengalani kondisi miskin akhlak dan masyarakat miskin materi.
 
"Maka beliau mengusulkan agar BUMN memperhatikan aspek kesehatan masyarakat. Kemudian pendidikan negara sebagai basis moral dan etika bisa diperbaiki karena permasalahan saat ini terjadi akibat belum sinkronnya antara pendidikan moral dan budi pekerti sebagai modal untuk menjadi bangsa yang kuat dan tangguh," jelas Hasto. [ysa]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya