Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Studi Iklim: Kematian Akibat Gelombang Panas Bisa Meroket Tajam Di Eropa

SABTU, 05 AGUSTUS 2017 | 13:08 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kematian akibat cuaca ekstrim di Eropa dikhawatirkan bisa meroket hingga 50 kali lipat pada akhir abad ini jika pemanasan global tidak dikurangi.

Menurut data yang ditulis oleh kelompok peneliti di The Lancet Planetary Health, angka kematian di Eropa bisa melonjak dari perkiraan 3.000 per tahun baru-baru ini menjadi 152.000 pada akhir abad ini/

Jumlah korban diperkirakan akan banyak di daerah selatan Eropa, di mana kematian akibat pemanasan diproyeksikan meningkat dari 11 per juta orang per tahun menjadi sekitar 700 per juta per tahun.


Gelombang panas akan menyebabkan sekitar 99 persen kematian akibat cuaca di masa depan.

"Jika pemanasan global tidak terkendali sebagai masalah urgensi dan tindakan adaptasi yang tepat dilakukan, sekitar 350 juta orang Eropa dapat terkena dampak iklim yang berbahaya secara tahunan pada akhir abad ini," kata laporan yang dirilis akhir pekan ini seperti dimuat Al Jazeera.

Para periset melihat catatan kejadian terkait cuaca di Eropa untuk jangka waktu 30 tahun dari tahun 1981 sampai 2010. Cakupan Eropa yang dimaksud dalam peneltian ini adalah 28 negara anggota Uni Eropa ditambah Swiss, Norwegia dan Islandia.

Mereka kemudian membandingkannya dengan proyeksi pertumbuhan populasi dan migrasi serta prediksi gelombang panas di masa depan, bentangan dingin, kebakaran hutan, kekeringan, banjir dan angin topan.

"Kami menemukan bahwa bencana yang berhubungan dengan cuaca dapat mempengaruhi sekitar dua pertiga populasi Eropa setiap tahunnya pada tahun 2100," tulis empat periset Komisi Eropa yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Bukan hanya itu, masih dalam penelitian yang sama juga ditemukan bahwa kematian akibat kebakaran hutan sebesar 138 persen, banjir sungai sebesar 54 persen dan badai angin sebesar 20 persen. Sedangkan kematian akibat gelombang dingin akan turun sekitar 98 persen. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya