Berita

Polisi Australia/Net

Dunia

Polisi Australia Gagalkan Plot Serangan Pesawat Dan Gas Kimia

JUMAT, 04 AGUSTUS 2017 | 13:35 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Polisi Australia menemukan bahwa dua orang yang diamankan akhir pekan lalu karena dituduh mempersiapkan plot serangan bom di pesawat ternyata juga berupaya membangun perangkat yang bisa melepaskan gas beracun.

Keduanya adalah Khaled Khayat berusia 49 tahun dan Mahmoud Khayat berusia 32 tahun. Keduanya bersama dua orang lainnya diamankan di pinggiran Sydney Lakemba, Punchbowl, Surry Hills, Wiley Park dan Bankstown.

Hasil investigasi kepolisian Australia menemukan bahwa kedua pelaku yang didanai oleh kelompok militan ISIS gagal menyelundupkan sebuah bahan peledak ke dalam penerbangan Etihad menuju Sydney pada 15 Juli lalu.


Wakil Komisioner Polisi Federal Australia, Michael Phelan mengatakan bahwa bahan peledak tersebut mereka sembunyikan di bagasi dan dibawa ke Bandara Sydney pada tanggal 15 Juli, namun tidak melalui pemeriksaan.

"Ada sedikit dugaan mengapa tidak melalui pemeriksaan bagasi, tapi saya ingin membuatnya cukup jelas bahwa tidak pernah ada pemeriksaan (keamanan) terhadap bawaanya tersebut," jelasnya seperti dimuat BBC.

Salah satu tersangka kemudian diketahui pernah menjalin kontak dengan tokoh senior ISIS pad abulan April lalu. Tokoh senior ISIS yang tak dirilis namanya itu pun kemudian mengatur agar komponen perangkat dikirim ke Australia dari Turki melalui kargo udara.

Kedua pelaku kemudian mengumpulkan bagian-bagian tersebut dan merangkainya menjadi alat peledak.

Bukan hanya itu, hasil penyelidikan terbaru menemukan bahwa keduanya juga menyiapkan plot serangan kedua, yakni membuat serangan gas kimia yang dirancang untuk melepaskan hidrogen sulfida, atau "gas telur busuk".

Namun Phelan menyebut bahwa rencana itu belum mencapai titik akhir karena keduanya berhasil diringkus lebih dulu. Namun ia tidak membeberkan lebih lanjut apa target yang diincar mereka untuk penyerangan gas kimia. [mel]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya