Berita

Harry Tanoe/Net

Politik

Persimpangan Jalan

KAMIS, 03 AGUSTUS 2017 | 18:37 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SAYA dikirimin foto Bapak Prabowo, Harry Tanoe dan Anies Baswedan. Foto reminiscene Pilgub DKI kemarin. Hari ini, Harry Tanoe (HT) dan Perindo dikabarkan nyebrang ke pemerintah. Dan terjadi lagi, HT jadi bulan-bulanan cyberbullies. Yang membully, bukan hanya buzzer oposisi, tapi juga simpatisan Hanura dan Nasdem. Kedua partai politik ini paling freak out bila Perindo masuk ruling circle.

Sikap politik mestinya dianalisa secara politik. Bukan dicibir, dibully, digosipin. Seorang netizen, Alhadi Muhammad bertanya ke mana kiblat politik HT. Saya menyayangkan bila nanti (pasca kongres Desember) Perindo benar-benar Pro Joko. Dirilisnya wacana ini, bagi saya, adalah salah satu indikator melemahnya soliditas oposisi pasca Ahok tumbang.

Menurut dugaan Ratna Sarumpaet, "HT membelot ke kubu Joko karena kecewa tidak ada yang membela dia dalam kasus yang sedang dia hadapi. Masih ada kemungkinan merangkul kembali HT asal kelompok kita tidak terlalu kaku dalam bepolitik. Bagaimanapun peran HT dan MNC sepanjang perjuangan bela Islam sangat berarti."


Tapi biasa setelah menang revolusi, faksi dan tokoh-tokoh saling berkelahi sendiri. Setelah Komunis Tiongkok menang, friksi internal pecah. Liu Xiao Qi, Zhu De, Peng De Huai, Lin Biao, Zhou Enlai dan Chairman Mao saling berebut pengaruh. Rebutan kue kemenangan. Stalin memburu Trotsky sampai ke Amerika pasca USSR dibentuk dan kematian Lenin. Jasa-jasa Trotsky dalam revolusi langsung dilupakan. Padahal Leon Trostky adalah pendiri dan komandan Red Army. Pangkatnya People's Commissar of Military and Naval Affairs. Setingkat Pangab.

Tapi saya kira, tabiat politik Indonesia tidak begitu. Mestinya tidak begitu.

Pasca Ahok tumbang, kelompok oposisi seharusnya jadi semakin besar dan solid. Bukan sebaliknya. Rapuh, mengerdil, ribut sendiri dan runtuh. Seperti menara pasir kering diterpa angin semilir.

Memang, mengalahkan musuh lebih mudah dibanding merawat kemenangan.

Secara politik, lebih menguntungkan bagi HT dan Perindo merapat ke pusat kekuasaan. Bisnis lancar, nggak digencet problem hukum, Perindo bisa lolos verifikasi. Secara pribadi, HT bisa menggantikan Ahok sebagai simbol "kebhinekaan" kubu sebelah.

Saya tidak lihat Perindo dapet peran dalam Tim Anies Sandi. Padahal mereka ikut aktif berperan memenangkan paslon No. 3. Ada kesan, HT dan Perindo dianaktirikan pasca Ahok tumbang.

Bagi saya, 1000 teman masih kurang. Satu orang musuh sudah terlalu banyak. Loncatnya HT dan Perindo mestinya direspon dengan evaluasi diri kelompok oposisi. A great lost. Tapi itu semua pilihan politik HT dan Perindo. Saya hargai. Tapi kita akan berseberangan di masa itu.

Di balik semua negativitas dan wrong treatment yang diterima HT dan Perindo, ada batu ujian.

Dalam skala mikro, saya pun diserang, dicibir, dibully, difitnah oleh segelintir orang yang mengklaim paling berjasa menumbangkan Ahok. Orang-orang nggak waras dan para pencari tenar. Persatuan tinggal kenangan. Bye-bye brotherhood. Tapi, tidak ada alasan bagi saya untuk loncat pager dan meninggalkan para ulama, mujahid, umat Islam dan rakyat yang sedang dizolimi.

Dilema HT dan Perindo jauh lebih kompleks. Saya bisa mengerti. Tapi saya tetap berharap HT dan Perindo tegar dan tidak meninggalkan garis-rakyat. Tanpa united front, perjuangan nasionalistik akan sia-sia. Ingat kata Bung Karno, "Nasionalisme itu jalah suatu itikad; suatu keinsyafan rakjat bahwa rakjat itu ada satu golongan, satu "bangsa"!". [***]

Penulis merupakan aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya