Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Elit Partai Wajib Belajar Etika Dan Moral Komunikasi Politik

RABU, 02 AGUSTUS 2017 | 08:38 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Elit partai di negeri ini masih banyak yang belum mengindahkan aksiologi atau etika dan moral dalam melakukan tindak komunikasi politik. Untuk itu, wajib hukumnya bagi pengurus dan elit partai belajar mengenai etika, moral, dan filsafat komunikasi politik.

Begitu kata pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing menanggapi pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono yang menyamakan PDIP dengan PKI.

Menurutnya, setiap pesan yang ke ruang publik tidak dapat ditarik kembali dengan upaya apapun, termasuk melalui pernyataan minta maaf. Sebab, pesan tersebut telah tersimpan di peta kognisi khalayak atau publik yang menerimanya


"Karena itu, pernyataan maaf tidak bisa menghapus begitu saja pernyataan yang bisa jadi sesat dan menyesatkan itu. Lagi pula, bagi khalayak yg menerima pesan tidak bisa menghapus sama sekali kognisinya dari pesan yang diterima, yang boleh jadi sesat itu," jelas Emrus kepada redaksi, Rabu (2/8).

Emrus menilai bahwa masih ada perilaku komunikasi politik dari aktor politik di Indonesia yang belum mengindahkan etika dan moral dalam melakukan tindak komunikasi politik. Hasilnya, komunikasi elit politik itu cenderung bepotensi sesat dan boleh jadi juga menyesatkan publik.

"Teranyar, kita juga baru saja mendengar kata (yang berpotensi menyesatkan publik), seperti "melukai rakyat", "menipu rakyat", "bodoh" dan sebagainya yang dilontarkan elit," urainya.

Sementara merujuk pesan komunikasi politik yang disampaikan oleh Arief Poyuono, lanjutnya, maka tidak berlebihan jika para pengurus dan elit partai wajib belajar etika, moral dan filsafat komunikasi politik. [ian]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya