Berita

Wiranto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Wiranto: Saya Ajak Negara Tetangga Bantu Filipina, Kalau Tidak, Bisa Merambat Ke Indonesia

SELASA, 01 AGUSTUS 2017 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA


RMOL. Pekan lalu Indonesia menjadi tuan rumah konferensi regional pemberantasan terorisme lintas batas negara. Negara-negara yang ikut konferensi tersebut adalah Selandia Baru, Australia, Brunei Darussalam, Malaysia, serta Filipina. Berikut penuturan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, terkait beberapa kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan tersebut;

Apa saja yang dibahas da­lam pertemuan kemarin?
Ada tiga agenda yang dibahas di pertemuan itu. Agenda utamanya adalah soal perkemban­gan foreign terrorist fighters (FTF) dan cross border terror­ism di sub kawasan.


Kami ingin meningkatkan kerja sama di tingkat domestik dan kawasan, terkait counter violent extremism dan deradika­lisasi, serta upaya penguatan kerangka hukum dan kerja sama hukum.

Apa saja hasil pembahasan tersebut?
Dalam pertemuan itu dicapai lima kesepakatan bersama antar perwakilan negara. Pertama, kami sepakat membentuk forum FTF dalam rangka memperkuat kerja sama untuk tukar informasi dan kerja sama penegak hukum, serta badan intelijen.

Kedua, mendorong kerja sama dengan semua perusahaan yang memberikan layanan media so­sial, video file sharing dan mes­saging di negara masing - mas­ing. Jadi perusahaan-perusahaan sosial media ini nantinya ikut membantu kami mencari ke­beradaan teroris atau menangkal secara langsung.

Apa kesepakatan lainnya?
Selanjutnya, kami menilai perlu ada studi komparatif hu­kum terkait terorisme yang ber­laku di masing-masing negara. Terkait hal ini, kami sepakat untuk memperkuat kerja sama antara lembaga penanggulangan kegiatan pendanaan kegiatan terorisme. Kelima, kami sepakat untuk meningkatkan kerja sama antar badan imigrasi. Terutama untuk mengamankan wilayah batas negara. Selain itu ke­marin Saya juga mengajak te­man-teman dari Australia, New Zealand, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, untuk bersa­ma-sama keroyok basis ISIS di Marawi, Filipina Selatan.

Kenapa Anda mengajak ke­lima negara itu untuk menge­royok basis ISIS di sana?
Saya ajak mereka bantu Filipina supaya masalah di sana cepat selesai. Karena kalau tidak, nanti bisa merambat ke Indonesia. Basis ISIS di Marawi merupakan hasil pemindahan pusat ISIS di Suriah yang telah hancur. Itu konsep pemindahan pusat ISIS di Suriah yang telah digempur semua oleh negara se­kutu, maka mereka mencoba un­tuk masuk ke konsep divergen.

Bagaimana respons kelima negara tersebut atas ajakan itu?
Respons mereka sangat positif. Dalam pertemuan ke­marin sudah ada kesepakatan dan sudah ada kesadaran bahwa tidak ada satu negara yang bisa menghadapi sendiri masalah terorisme. Single state, tidak mungkin. Mereka adalah organ­isasi internasional yang mempu­nyai jaringan di seluruh dunia untuk itu tidak mungkin hanya dihadapi satu negara.

Kemarin kan sempat muncul usulan agar Amerika Serikat dilibatkan dalam upaya pen­anganan teroris di Marawi. Bagaimana terkait usulan ini?

Terkait hal itu, beberapa bulan lalu negara-negara di seluruh dunia sudah melakukan per­temuan beberapa kali, salah satunya dalam forum G-20 di Jerman. Pertemuan itu juga mem­bicarakan bagaimana seluruh negara sepakat, menempatkan terorisme sebagai ancaman nyata dunia. Seluruh negara sepakat terlibat untuk mengatasi masalah terorisme, termasuk Amerika Serikat. Namun dalam pertemuan saya dengan Yang Mulia George Brandis bulan Januari dan Maret tahun ini, kami mencoba untuk terlebih dahulu memfokuskan pada negara-negara di kawasan perairan Sulu, untuk menghadapi satu ancaman baru di wilayah Filipina Selatan.

Kenapa begitu?
Karena negara-negara yang ada di kawasan ini mempunyai kepentingan langsung dengan keamanan regional. Ini step per­tama yang kami lakukan, dan ka­mi harapkan ada satu step lagi.

Step apakah itu?
Dari pertemuan kemarin ada satu keputusan, yaitu akan ada pertemuan lanjutan dari pejabat-pejabat tinggi antarnegara, untuk mengaplikasikan kesepaka­tan kemarin menjadi satu aksi yang lebih nyata. Pertemuan sub-regional selanjutnya ini recananya akan diselenggarakan pada tahun 2018. ***

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya