Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Menyorot Nasib Anak-anak Yatim-piatu Militan ISIS Yang Ditolak Masyarakat

KAMIS, 27 JULI 2017 | 16:28 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Perebutan kembali kendali kota terbesar kedua di Irak, Mosul dari kelompok militan ISIS oleh pasukan Irak awal bulan ini memicu masalah baru.

Proses perebutan kendali kota yang diwarnai dengan kekerasan, menyebabkan ratusan korban jiwa, termasuk dari kalangan militan ISIS.

Hal tersebut menyebabkan ribuan bahkan mungkin bisa mencapai puluhan ribu anak-anak para militan ISIS menjadi yatim piatu karena kehilangan orang tua mereka dalam konflik.


The Guardian
dalam artikel yang dibuat oleh  Martin Chulov dan Salem Rizk Mosul yang dirilis Rabu (26/7), mengangkat isu soal nasib anak-anak militan ISIS yang ditinggal mati orang tua mereka.

Stigma yang muncul di masyarakat Irak, terutama Mosul, adalah bahwa anak-anak tersebut, kendati masih penuh kepolosan, namun telah dicekoki dengan ideologi teror dan ekstrimisme dari orang tua mereka.

Tidak sedikit orang di masyarakat mereka sendiri yang menganggap bahwa mereka tak beda dengan orang tua mereka dalam hal pemikiran. Anak-anak tersebut juga hidup tanpa kewarganegaraan, sehingga tidak memiliki perawatan dasar, termasuk kesehatan, pendidikan dan penampungan.

Lembaga bantuan dan sistem kesejahteraan negara pun tidak mengakui mereka.

Anak-anak militan ISIS itu saat ini banyak disembunyikan di kamp-kamp bantuan di Irak utara atau pun di rumah-rumah pribadi di timur Mosul yang terbebaskan dan di utara Kurdi, di mana anggota keluarga, pekerja sukarela dan sejumlah kecil pejabat menawarkan bantuan bagi mereka.

Salah satu kelompok yang memberikan bantuan adalah Kantor Perempuan dan Anak-anak yang melakukan program darurat di provinsi Niniwe.

Pimpinan kelompok tersebut, Sukaina Mohamed younes menjelaskan bahwa skala masalah sosial yang dihadapi keluarga di daerah pasca ISIS sangat banyak.

"Kami telah menerima dari Mosul puluhan ribu anak-anak yang kehilangan ibu dan ayah mereka," katanya.

"Bisa dibilang 75 persen berasal dari keluarga ISIS. Kami tidak memiliki angka pasti, karena beberapa anak tidak memiliki identitas, jadi kami tidak tahu siapa mereka. Saya dapat memberitahu Anda bahwa 600 anak yatim ISIS ada di Hammam al-Alil (kamp pengungsi)," sambungnya.

"Sampai saat ini belum ada program penanganan kasus ini. Saya memberikan sebuah proposal kepada pemerintah. Kami berpikir, sebelumnya, untuk menempatkan semua anak yatim ISIS di sebuah kamp keamanan yang tinggi. Tapi saya tidak tahu apa yang terjadi dengan ini. Masalahnya adalah orang-orang tidak lagi menerima keluarga ISIS," tambahnya.

Ia menambahkan bahwa saat ini hampir tidak ada layanan psikologis atau kejiwaan di Irak untuk anak-anak dari kalangan keluarga ISIS. Bahkan juga tidak ada tanda adanya keinginan untuk merangkul program terapi yang dapat mengobati berbagai macam trauma perang.

Karena itulah ia mengkhawatirkan muncul bibit masalah baru di anak-anak ISIS, yakni balas dendam.

"Kami punya masalah untuk anak-anak ISIS, balas dendam. Menurut Anda apakah orang normal yang terpengaruh oleh ISIS akan melupakan semua ini? Ini akan jauh lebih sulit daripada ISIS sendiri. Jauh lebih sulit daripada operasi militer," jelasnya.

Sukaina meyakini bahwa rehabilitasi masih mungkin dilakukan bagi anak-anak korban perang di Mosul, baik yang datang dari keluarga warga sipil ataupun militan ISIS.

Keyakinan yang menyimpang yang tertanam melalui dogma dan trauma merupakan langkah awal yang perlu, yang setidaknya bisa dimulai melalui dukungan masyarakat.

"Saya percaya bahwa antara usia delapan dan 12 mudah untuk membantu mereka kembali normal. Remaja sangat sulit karena mereka memiliki ideologi yang lebih kuat," jelasnya.

"Bukan hanya pemerintah Irak yang perlu menemukan cara untuk mengatasi hal ini. Masyarakat internasional juga harus membantu kita untuk menemukan sebuah resolusi bagi orang-orang ini. Tanpa bantuan mereka akan sulit, karena perlu orang khusus untuk menangani anak-anak ini," tandasnya. [mel]

Populer

UPDATE

Selengkapnya