Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Polisi Menyamar Telah Mata-matai 1.000 Kelompok Politik Inggris

KAMIS, 27 JULI 2017 | 15:57 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Lebih dari 1.000 kelompok politik di Inggris telah dimata-matai oleh polisi yang melakukan penyamaran dan menggunakan identitas palsu.

Begitu bunyi laporan penyelidikan publik terbaru yang dipimpin hakim di Inggris. Ini adalah pertama kalinya jumlah kelompok politik yang disusupi oleh mata-mata yang menyamar lebih dari empat dekade telah dipublikasikan. Namun demikian, daftar kelompok yang disusupi belum dipublikasikan oleh penyelidikan.

Kendati begitu, dikabarkan The Guardian, di antara kelompok yang dipantau adalah kelompok lingkungan, anti-rasis dan hak hewan, partai sayap kiri dan kanan.


Jumlah kelompok politik yang disusupi itu dirilis oleh penyelidikan publik yang dilakukan oleh Theresa May, saat dia menjadi sekretaris dalam negeri untuk memeriksa perilaku mata-mata polisi sejak 1968.

Mei memerintahkan penyelidikan tersebut menyusul laporan bahwa mata-mata telah melakukan sejumlah pelanggaran seperti menipu wanita untuk membentuk hubungan jangka panjang dan mencuri identitas anak-anak yang telah meninggal.

Sedikitnya 144 petugas polisi yang menyamar telah dikerahkan untuk memata-matai kelompok politik sejak 1968. Mereka mengumpulkan informasi mengenai lebih dari satu kelompok.

Mata-mata itu mengembangkan identitas palsu yang rumit dan sering didasarkan pada anak-anak yang telah meninggal. Identitas palsu mereka  didukung oleh dokumentasi palsu seperti izin mengemudi yang disediakan oleh negara.

Mereka menghabiskan waktu lama untuk melakukan pemantauan, biasanya lima tahun, seperti berpura-pura menjadi aktivis politik sambil mereka memberikan informasi kepada atasan mereka tentang kegiatan pegiat dan demonstrasi yang sedang diorganisir.

Para juru kampanye telah mendesak penyelidikan untuk menerbitkan daftar kelompok dan nama identitas palsu yang digunakan oleh mata-mata polisi selama misi rahasia mereka. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya