Berita

Net

Hukum

DPR Dukung Satgas Pangan Tindak Mafia Dan Kartel

KAMIS, 27 JULI 2017 | 15:59 WIB | LAPORAN:

Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo mengapresiasi kerja Satuan Tugas Pangan yang menindak mafia dan kartel di sektor kebutuhan pokok.

Keberadaan Satgas Pangan terbukti efektif dalam membantu terwujudnya stabilitas harga dan stok, termasuk di waktu-waktu tertentu yang riskan.

"Itu dibuktikan dengan stabilnya harga-harga pas Ramadhan sampai Lebaran kemarin. Lebaran kemarin kan harga sangat stabil, tidak ada gejolak. Padahal sebelumnya selalu bergejolak," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (27/7).


Dukungan juga diberikan karena sebelumnya mafia dan kartel pangan sulit tersentuh aparat hukum lantaran banyak pemain yang menguasai berbagai komoditas. Padahal, pangan merupakan amanat konstitusi dan hak asasi agar bisa bertahan hidup.

"Gula ada pemainnya, kedelai ada pemainnya, beras ada pemainnya, daging ada pemainnya, jagung ada pemainnya, garam ada pemainnya, singkong apalagi. Semua sudah ada pemainnya," ungkap Firman.

Menurutnya, ketika mafia dan kartel belum bisa diamankan maka mereka dengan sesuka hati mempermainkan harga pangan di sektor hulu atau petani hingga hilir alias konsumen. Caranya, memborong semua hasil panen petani dan disimpannya di gudang untuk waktu tertentu hingga stok barang di pasar menipis. Ketika situasi telah terjadi demikian, mereka lalu menjual dengan harga tinggi.

"Iya konsep kartel kan begitu. (Kelangkaan) dibuat mereka, supply demand dikuasai mereka, dan Bulog tidak bisa mengatasi persoalan ini," beber Firman.

Politisi Partai Golkar itu menambahkan, Bulog sebagai instrumen negara untuk mengendalikan harga pangan kerap terhambat dan sulit berkompetisi dengan perusahaan swasta. Lantaran segala kebijakannya dibatasi oleh peraturan perundang-undangan, jika melanggar maka kena semprit aparat hukum.

Sedangkan korporasi lebih fleksibel karena berkuasa penuh atas sumber daya yang dimiliki serta bebas membeli atau menjual barang dengan harga murah hingga mahal.

"Namanya pedagang, sudah pintar hitung-hitungannya. Apalagi kalau dia sudah menguasai bahwa hasil panen dibeli semua, distok semua. Karenanya, adakalanya justru Bulog membeli barang dari swasta dengan harga tinggi," jelas Firman.

Dia menambahkan, bermain di sektor pangan sangat menggiurkan. Sebab, tanpa perlu kerja keras dan hanya main di atas kertas namun mendapatkan untung besar.

"Coba dia kalau membeli gabah kering Rp 4.900 per kilogram tapi dia bisa menjual beras sampai Rp 13.000 per kilogram, bahkan Rp 20 ribu per kilogram beras premium. Yang diuntungkan siapa," tanya Firman.

Dia mengingatkan para pengusaha nakal tidak pernah membantu petani, baik dalam memenuhi kebutuhan bercocok tanam hingga penyediaan sarana prasarana infrastruktur. Justru, semuanya dibiayai negara melalui subsidi dan bantuan.

Tanpa adanya tindakan tegas terhadap para kartel dan mafia tersebut, maka masa depan Indonesia ke depan bakal terpuruk.

"Negara agraris, tapi industri pertanian dikuasai asing, ini berbahaya. Indonesia penduduknya besar, jumlah kebutuhan sangat tinggi. Tetapi ketika tidak bisa membendung kartel, ini bahaya," tegasnya. [wah]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya