Berita

Net

Hukum

Pansus: Keberatan Dengan Keterangan Terpidana Korupsi Silakan Lapor Polisi

RABU, 26 JULI 2017 | 14:56 WIB | LAPORAN:

Panitia Khusus Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) menekankan bahwa pemanggilan semua pihak terkait, termasuk terpidana kasus korupsi Muhtar Ependy dan Niko Panji Tirtayasa dalam rangka menggali kinerja lembaga anti rasuah selama ini.

Menurut anggota Pansus KPK Ahmad Sahroni, bila keterangan pihak yang dipanggil pansus tidak terbukti kebenarannya dia menyarankan pihak-pihak yang merasa dirugikan untuk melapor kepada penegak hukum, dalam hal ini kepolisian. Sahroni membantah adanya tudingan bahwa pemanggilan terpidana korupsi sebagai upaya menyudutkan KPK.

Dia mengatakan, pansus saat ini berperan menyelidiki ada atau tidaknya pelanggaran dilakukan KPK dalam kewenangannya sebagai penegak hukum kasus korupsi.


"Muhtar dan Niko hadir di pansus dengan rapat terbuka untuk umum agar masyarakat tahu bagaimana kejadian-kejadian dialami oleh mereka, yang sudah dapat gelar terpidana tapi tidak ada fakta yang sebenarnya. Dalam rapat dengar pendapat itu, mereka mengaku mengalami yang tidak diperbolehkan dalam hukum. Sudah dipenjara pun belum dijadikan tersangka," jelas Sahroni kepada wartawan di Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (26/7).

Dia pun meminta mereka yang mendiskreditkan upaya Pansus KPK tidak hanya sekedar berbicara tanpa ada pembuktian, termasuk dari kalangan akademisi.

"Seorang akademisi itu musti percaya atas data primer yang teruji, jangan sekedar katanya-katanya. Jika menggunakan data sekunder maka sumber dari data tersebut harus teruji sahih, misalnya sudah dipublikasikan," ujar Sahroni.

Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Nasdem itu meminta semua pihak tidak perlu khawatir pansus akan mengerdilkan KPK.

"Tidak perlu takut sebenarnya, wong terbuka kok rapat pansus ini. Jangan risau membuat opini dengan meminta bantuan publik, dan jangan libatkan presiden. Hasil dari pansus akan dilaporkan ke presiden, selanjutnya presiden tentukan sikap atas hasil laporan pansus," demikian Sahroni. [wah] 

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya