Berita

Net

Politik

Gerindra Serukan Boikot Pemilu 2019

SABTU, 22 JULI 2017 | 12:50 WIB | LAPORAN:

Partai Gerindra menilai penerapan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) seperti diatur Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilu sebagai pengkhianatan terhadap demokrasi.

"Ambang batas pencalonan presiden sebesar 20 persen bentuk pengkhianatan pada demokrasi dan rakyat Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah dan partai pendukung pemerintah," ujar Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Puyuono dalam keterangannya, Sabtu (22/7).

Menurutnya, dengan adanya presidential threshold, proses demokrasi dalam Pilpres 2019 tidak akan menghasilkan presiden terpilih dengan kualitas mumpuni. Sebab presidential threshold 20 persen akan menyuburkan tawar-menawar parpol kepada calon presiden.


"Contohnya adalah pemilihan kepala daerah dengan ketentuan 15 persen dukungan suara parpol di DPRD yang marak dengan mahar jual beli kursi DPRD dan suara parpol," beber Arief.

Dia mengakui bahwa langkah konstitusional untuk membatalkan UU Pemilu dengan presidential threshold 20 persen hanya dengan jalan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, dia menduga MK akan menolak gugatan.

"Kemungkinan MK berpihak pada rakyat juga sangat kecil sekali. Karena itu, saya mengimbau kepada seluruh masyarakat jika gugatan judicial review di tolak MK, satu-satunya langkah yang harus kita ambil adalah melakukan boikot pemilu dan Pilpres 2019 mulai saat ini," jelas Arief.

Sebab, lanjutnya, sangat jelas UU Pemilu dengan presidential threshold 20 persen merupakan konspirasi busuk parpol pendukung pemerintah yang bertujuan untuk menjadikan Joko Widodo sebagai calon tunggal presiden pada Pilpres 2019 alias melawan kotak kosong.

"Ayo boikot pemilu dan Pilpres 2019 untuk mencegah menghasilkan pemimpin tidak berkualitas," pungkas Arief. [wah] 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya