Berita

Foto/Net

Bisnis

Gaikindo Minta Insentif & Jaminan Pasokan Setrum

Produksi Mobil Listrik Mahal
JUMAT, 21 JULI 2017 | 10:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rencana pemerintah mengembangkan mobil listrik disambut oleh produsen mobil nasional. Namun, mereka meminta insentif karena produksi mobil listrik mahal.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, sudah mendengar kabar munculnya lampu hijau dari pemerintah tentang implementasi mobil listrik. Sebagai pelaku usaha, Gaikindo menilai positif wa­cana tersebut dan mendukung pemerintah untuk kemajuan industri otomotif nasional.

Meski begitu, kata Yohannes, rencana pemerintah itu harus diimbangi dengan kemampuan pemerintah juga, terutama in­frastruktur pendukung mobil lis­trik seperti pasokan setrumnya.


"Yang dimaksud lampu hijau harus jelas. Kami siap-siap saja, bikin mobil tanpa sopir juga bisa tapi pemerintah siap nggak untuk infrastrukturnya," kata Yohannes kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut dia, infrastruktur bagi pelaku usaha adalah hal utama sebelum memproduksi mobil. Sebab, jika mobilnya sudah ada tapi bahan bakarnya dalam hal ini pasokan listriknya tidak ada, tentu akan merugikan konsumen.

"Stok harus cukup lalu distri­businya lancar. Jangan sampai industri sudah siap tapi saat mau dikirim ada kota yang tidak bisa menerima karena nggak punya infrastruktur pengisi listriknya," ujar Yohannes.

Selain infrastruktur, pemer­intah juga harus menyiapkan hal teknisnya, seperti uji tipe untuk pengujian secara teknis. "Gaikindo siap kapan pun pe­merintah minta produksi mobil listrik," tukasnya.

Menteri Perindustrian Air­langga Hartarto mengakui, produksi massal mobil lis­trik membutuhkan biaya tidak sedikit. Maka dari itu, dia mengatakan, insentif pemer­intah sangat diperlukan untuk mewujudkan rencana ini.

"Mobil listrik itu kan mahal. Mobil listrik itu harus ada insen­tif dari pemerintah," ujarnya.

Dia menegaskan, sesungguh­nya proyek mobil listrik sudah ada dalam peta jalan atau road­map Kementerian Perindustrian untuk pengembangan industri otomotif. Untuk pengembangan mobil listrik, pihaknya akan mengembangkan industri pen­dukung mobil listrik di dalam negeri. "Tentunya kita akan lihat dari pengembangan industri mo­tor elektrik Indonesia. Seperti, pengembangan industri baterai di Indonesia," pungkasnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igna­sius Jonan mengatakan, tengah mempertimbangkan konsep penyediaan energi untuk mobil listrik melalui baterai yang bisa dibeli di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Setelah mendapat instruksi dari Presiden Joko Widodo, Kementerian ESDM akan me­nyusun rancangan kebijakan dalam bentuk peraturan presi­den mengenai pengembangan mobil listrik untuk mengurangi emisi karbon.

"Teknologi baterai itu penting. Semua 6.000 SPBU di Indonesia nantinya bisa menyediakan bat­erai. Setiap mobil listrik masuk SPBU tidak untuk mengisi bahan bakar, tetapi mengganti baterai. Jadi baterai daya kosong bisa dilepas, lalu menukarnya dengan baterai yang terisi. Kon­sumen harus membayar baterai tersebut," kata Jonan.

Jonan menjelaskan, sistem jual beli baterai untuk mobil listrik akan serupa dengan gas tabung di mana pembeli hanya perlu membawa gas kosong lalu menukarnya den­gan gas terisi di SPBU mana pun khususnya milik dan bek­erja sama dengan Pertamina. Penjualan baterai di SPBU akan lebih efektif dan efisien karena pemilik mobil listrik tidak perlu mengisi ulang daya terlalu lama di SPBU.

Sebelumnya, Menteri Koordi­nator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mendorong Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) agar serius untuk mengembangkan proyek mobil listrik. Menurut Luhut, mobil listrik perlu dikembang­kan dalam negeri, agar Indo­nesia bisa menjadi negara pro­dusen mobil ramah lingkungan ini. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya