Berita

Jokowi-JK/net

Bisnis

Kemiskinan Meningkat, INDEF: Menteri Yang Kurang Bagus Kerjanya Lebih Baik Diganti

RABU, 19 JULI 2017 | 15:15 WIB | LAPORAN:

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di Indonesia meningkat masing-masing 1,83 dan 0,48 di Maret 2017 dibanding realisasi September 2016 yang sebesar 1,74 dan 0,44. Jumlah penduduk miskin di bulan ketiga ini sebanyak 27,77 juta orang dengan persentase 10,64 persen.

Pengamat ekonomi Institute For Economic and Development Finance (INDEF) Bima Yudhistira menegaskan jika tim ekonomi di kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) perlu dievaluasi.

"Saya tidak bilang mendorong reshuffle. Tapi tim ekonomi Jokowi-JK memang perlu di evaluasi," kata Bima saat berbincang dengan redaksi, Rabu (19/7).


Bima pun mengingatkan bahwa waktu pemerintah bekerja tinggal 1,5 tahun lagi. Sehingga menurut dia pemerintah Jokowi-Jk lebih baik fokus memperbaiki kinerja ekonomi.

"Kalau ada menteri yang kurang bagus kinerja-nya dan menghambat lebih baik segera diganti," kata Bima.

Bima pun meguraikan jika kemiskinan bisa meningkat salah satunya karena masalah stuktural yaitu lapangan kerja berkurang drastis. Pertumbuhan industri yang rendah sejak 2 tahun terakhir kata Bima membuat penyerapan tenaga kerja menurun.

"Fenomena ini disebut deindustrialisasi," kata Bima.

Faktor berikutnya tambah Bima adalah soal pelemahan daya beli yang dirasakan masyarakat menengah bawah. Ini disebabkan penyesuaian tarif listrik 900 VA sejak awal tahun 2017.

"Inflasi dari komponen listrik jelas memukul daya beli," kata Bima.

Sementara itu pada awal tahun 2017 pendistribusian beras sejahtera (rastra) juga mengalami hambatan sehingga upaya penurunan kemiskinan menjadi lamban.

"Berbagai faktor penyebab naiknya kemiskinan itu kalau dibiarkan maka target angka kemiskinan bisa turun sampai 10% dan gini rasio 0.38 di tahun 2018 jadi sulit tercapai," pungkas Bima.

Atas dasar itu, Bima menyarankan pemerintah segera melakukan stabilisasi harga pangan dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Listrik diusahakan jangan naik dulu sampai akhir tahun," tegas Bima.

Jaring pengaman berupa bantuan sosial menurut Bima juga penting untuk dilakukan pemerintah agar jangan sampai telat penyalurannya seperti yang terjadi pada kasus beras sejahtera (rastra).

BPS mencatat Indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung menjauhi garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengungkapkan, Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 1,74 pada September 2016 menjadi 1,83 pada Maret 2017.

"Kalau indeks kedalaman meningkat, berarti tingkat kedalaman kemiskinan semakin dalam. Jarak antara rata-rata pengeluaran orang miskin dengan garis kemiskinan semakin jauh, sehingga upaya mengentaskan penduduk miskin menjadi lebih sulit lagi," kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin (17/7).
 
Indeks Kedalaman Kemiskinan di wilayah perkotaan pada Maret 2017 sebesar 1,24, sedangkan di wilayah perdesaan mencapai 2,49. Masing-masing meningkat dibanding September tahun lalu yang sebesar 1,21 dan 2,32.
 
"Ini menunjukkan persoalan kemiskinan di desa lebih bermasalah dibanding perkotaan," tegasnya.
 
Sementara untuk Indeks Keparahan Kemiskinan, tutur Kecuk, trennya hampir sama dengan Indeks Kedalaman Kemiskinan, yakni naik dari 0,44 di September 2016 menjadi 0,48 di Maret 2017. Indeks keparahan kemiskinan ini menunjukkan bahwa variasi pengeluaran penduduk miskin menjadi semakin lebar.
 
"Paling curam peningkatan indeks keparahan kemiskinan di desa dari 0,59 menjadi 0,67. Sedangkan di kota dari 0,29 menjadi 0,31," demikian Suhariyanto.[san]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya