Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meminta pemerÂintah daerah untuk menjaga para investor kawasan industri supaya tidak diganggu oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Hal ini supaya banyak investor terÂtarik menanamkan modalnya di kawasan industri luar Jawa dan penjualnnya
Direktur Jenderal PengemÂbangan Perwilayahan Industri Kemenperin Imam Haryono mengatakan, terus menggenjot pemerataan kawasan industri sampai ke daerah. Dia menÂgakui, saat ini paling banyak penyebaran kawasan industri masih banyak di wilayah Jawa.
"Saat ini sudah mulai menyeÂbar ke luar Jawa," ujarnya di kantor Kementerian PerindusÂtrian, Jakarta, kemarin.
Namun, dia mengingatkan, keÂpada daerah untuk menjaga invesÂtor kawasan industri yang sudah masuk. Menurut dia, para investor harus dibuat nyaman dalam menaÂnamkan modalnya jangan sampai diganggu oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
"Investor ini kan baru meÂnanam. Jangan baru menanam diganggu terus," ujarnya.
Saat ditanya bentuk gangguanÂnya, Imam mengungkapkan, banyak investor yang mengeÂluhkan diganggu oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM). Apalagi, di negaranya mereka tidak pernah diganggu LSM.
Terkait dengan kondisi politik Indonesia yang sering timbul riak-riak, Imam menegaskan tidak mengurangi niat investor untuk menanamkan modalnya di kawasan industri. Apalagi, peringkat Indonesia sudah naik jadi layak investasi.
"Mereka biasanya sudah memperhitungkan kondisinya. Paling buruk itu kan mereka cabut," jelasnya.
Imam menambahkan, invesÂtor yang banyak investasi di kawasan industri luar Jawa adaÂlah China. Mereka bergerak di pertambangan dan pengolahan. "Mereka mempunyai teknologi dan modal," tuturnya.
Untuk diketahui, Kementerian Perindustrian menargetkan 14 kawasan industri. Yaitu, Bintuni (Papua Barat), Bitung (Sulawesi Utara), Palu (Sulawesi Tengah), Morowali (Sulawesi Tengah), Konawe (Sulawesi Tenggara), dan Buli (Halmahera).
Lalu ada Bantaeng (Sulawesi Selatan), Jorong (Kalimantan Selatan), Batu Licin (Kalimantan Selatan). Kemudian Ketapang (Kalimantan Barat), Landak (Kalimantan Barat), Kuala TanÂjung (Sumatera Utara), Sei Mangke (Sumatera Utara), dan Tanggamus (Lampung).
Ketua Umum Himpunan KaÂwasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengatakan hingga Juni tahun ini, penjualan lahan indusÂtri di kawasan industri sekitar Jakarta, yaitu Bekasi, Karawang, Tangerang, dan Bogor, mencapai 110 hektare atau 60 persen dari caÂpaian total tahun lalu. "Di semester pertama ini sudah mencapai lebih dari 50 persen. Dengan realisasi ini, outlook 2017 masih dalam keadaan normal," ujarnya.
Pada paruh pertama tahun lalu, penjualan lahan industri hanya mencapai 50 hektare. Rendahnya penjualan pada seÂmester I-2016 disebabkan oleh perlambatan ekonomi global dan jebloknya harga komoditas. Penurunan penjualan lahan inÂdustri telah terjadi sejak 2015.
Adapun dari sisi harga lahan, dia menyebutkan tidak ada peÂrubahan yang signifikan. Namun ada kecenderungan menurun di sekitar 150-180 dolar AS per meter persegi. ***