Berita

Foto/Net

Bisnis

Pemerintah Jangan Lepas Tangan Dong

Daya Beli Turun, Banyak Toko Elektonik Gulung Tikar
RABU, 19 JULI 2017 | 08:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penjualan elektronik sepanjang tahun ini masih kurang greget karena turunnya daya beli. Tapi, di sisi lain biaya sewa toko terus naik. Jika dibiarkan terus akan banyak penjual yang akan menutup tokonya. Pemerintah jangan lepas tangan dong.

Ketua Umum Gabungan Elek­tronik Indonesia (Gabel) Ali Soebroto mengatakan, penjualan barang elektronik tahun ini sulit diprediksi. Bahkan, di beberapa momen-momen tertentu yang seharusnya penjualannya naik malah terjadi sebaliknya.

Misalnya, kata dia, pada momen Tahun Baru, Ramadan dan Lebaran yang biasanya naik penjualan, malah turun. Padahal, sudah banyak program promosi untuk mendongkrak penjualan.


"Permintaan tidak besar dan daya beli konsumen susah di­naikkan jadi yang bisa dilakukan maksimal mempertahankan penjualan supaya tidak turun," jelasnya Ali saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Ali menjelaskan, kondisi bis­nis elektronik pada tahun ini san­gat berbeda jika dibandingkan dengan lima tahun ke belakang. Misalnya, pada saat perayaan Lebaran, penjualan elektonik bisa naik hingga 40 persen.

Menurut dia, sepanjang kuar­tal I tahun ini, penjualan elek­tronik anjlok hingga 10 persen. Pada kuartal II pun, Ali mera­mal, tetap lesu. "Kalau kita meli­hat dari kondisi sebelumnya bisa dibilang penjualan pada kuartal II ini nggak ada peningkatan, sama saja," imbuhnya.

Penurunan daya beli tidak hanya pada pasar offline tapi juga online. Menurut Ali, penu­runan daya beli disebabkan oleh banyak faktor, yang utama adalah sifat konsumen yang mulai memprioritaskan membeli kebutuhan pokok dan menahan berbelanja elektronik.

Lesunya penjualan elektronik, kata Ali, membuat produsen asal Jepang mengalihkan investas­inya di sektor lain. Langkah itu dilakukan untuk menekan keru­gian. "Kalau ada yang tumbang, itu kan karena fee dan marginnya kecil," ungkapnya.

Kendati begitu, tidak semua produk elektronik penjualan­nya turun. Tapi, kondisi ini sangat dikeluhkan oleh pelaku usaha, apalagi bagi mereka yang menyewa pusat perbelanjaan. "Bagi pelaku bisnis tentunya ada bermacam-macam aspek teknologi, biaya, dan lokasi," jelas dia.

Maraknya penutupan toko elektronik juga dikeluhkan Ket­ua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey. Dia menilai, kondisi ini lebih disebabkan tingginya biaya sewa yang tak sebanding dengan pemasukan.

"Kalau omzet saja sampai turun, maka untung tidak ada. Gimana mereka bisa bertahan," keluhnya.

Roy membeberkan kalau sekarang ini pihak pengelola mall banyak yang pasang harga biaya sewa tingggi. "Biasanya harga juga akan dinaikkan per lima tahun," ungkapnya

Banyak peritel tak kuat mem­bayar sewa toko atau gerai di mal. Ditambah beban gaji dan iuran lainnya untuk menjual dagangan di toko. Beban makin menjadi jika tulang punggung bisnis yaitu daya beli masyarakat anjlok habis-habisan. Alhasil, pendapatan para peritel khusus­nya kelas menengah ke bawah, semakin terpuruk saja.

"Penyewa toko pilih tutup saja ya karena enggak sesuai dengan modal yang dikeluarkan," ung­kapnya.

Salahkan Pengelola

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menuding, sepinya penjualan di pusat penjualan elektronik Glodok karena penjual dan pen­gelola tidak kreatif. "Makanya poinnya saya sampaikan pusat belanja harus inovatif. Kalau dia statis dengan adanya kom­petisi, dia seharusnya pindah ke tempat yang lebih baik," kata Enggar.

Menurut politisi Nasdem ini, jika omzet sudah mulai menu­run mestinya mereka segera melakukan inovasi untuk kem­bali meraup pembeli, misalnya dengan mengadakan sebuah event tertentu. "Saya ada Jogja Tronik. Semula jualan turun, susah sekali. Nah bagaimana saya bisa meningkatkan itu, saya bikin event, orang mau tertarik datang ke sana dengan maka­nan enak. Tempat enak untuk hang out. Orang ke sana datang pindah. Anda pindah saya kasih gratis dulu," ujarnya.

Meski demikian, kata Enggar, tutupnya kios-kios di Glodok dis­ebabkan habisnya masa sewa.

"Ada catatan menarik dia ha­bis masa kontrak. Bisa saja dia perpanjang atau tidak perpan­jang kemudian dia lihat tempat lain," tuturnya.

Sebelumnya ramai pemberi­taan terkait nyaris bangkrutnya pusat belanja elektronik legend­aris Glodok karena sepi pembeli dalam 5 tahun terakhir. Saat ini, banyak kios yang sudah tutup atau hanya difungsikan sebagai gudang saja. Sepinya pusat belanja rakyat ini juga terjadi di Roxy, Mangga Dua, ITC Cem­paka Mas, bahkan Tanah Abang yang dipicu oleh perekonomian lesu, terutama dalam setahun terakhir. ***

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya