Berita

Jenderal Tito Karnavian/Net

Wawancara

WAWANCARA

Jenderal Tito Karnavian: Kelebihan Polri Ada Pada Network Dan Personalnya, Densus Tak Akan Saingi KPK

SELASA, 18 JULI 2017 | 08:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jenderal Tito kembali menghidupkan wacana pembentukan Detasemen Khusus (Densus) Anti-Tindak Pidana Korupsi. Wacana ini kali pertama mun­cul saat Polri dipimpin Jenderal Sutarman.

Kini Jenderal Tito sudah me­nyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mem­bentuk Densus Antikorupsi. Berikut penjelasan Jenderal Tito terkait hal tersebut;

Banyak kalangan menilai motivasi pembentukan Densus Antikorupsi hanya untuk me­nyaingi KPK?
Intinya kami bukan ingin me­nyaingi KPK, tidak. KPK kan jumlahnya terbatas. Berapa kan seribu paling ya. Penyidiknya ju­ga 150 mungkin. Penyelidiknya juga paling sekitar segitu.

Intinya kami bukan ingin me­nyaingi KPK, tidak. KPK kan jumlahnya terbatas. Berapa kan seribu paling ya. Penyidiknya ju­ga 150 mungkin. Penyelidiknya juga paling sekitar segitu.

Yang bisa ditangkap kasus-kasus besar. Jika hanya men­gungkap kasus-kasus besar, maka efeknya di masyarakat tak akan masif.

Lho memangnya Anda bisa menjamin Densus Antikorupsi Polri nanti kinerja dan efeknya bisa lebih besar dari KPK?

Tanpa mengecilkan teman-teman KPK dan tanpa membesarkan Polri, kelebihan dari Polri yaitu network dan jumlah orang­nya banyak. Saya sampaikan Polri ini mesin raksasa, jumlah 423 ribu orang, punya 33 Polda, hampir 500 Polres. Dengan ke­unggulan itu, densus bisa berg­erak secara massif, tidak hanya fokus pada sebuah kasus besar.

Contohnya?

Misalnya Densus Antikorupsi bisa menangani persoalan sem­bako bersama dengan kemente­rian terkait, untuk mengawasi gejolak stabilitas sembako dan melakukan tindakan ke para pelanggar hukum.

Begitu tertangkap otomatis mafia-mafia kartel tiarap. Begitu tiarap harga akan normal. Yang nimbun pun tangkap saya per­intahkan. Kalau nggak nang­kap, Direktur reserse, Kapolres, Kapolda saya ganti. Itu masif, mereka bergerak.

Ada kekhawatiran kerja densus justru akan tumpang tindih dengan KPK?
Densus Antikorupsi nanti tidak akan tumpang tindih dengan KPK. KPK tetap menjadi pemacu supervisi, serta kolaborasi Densus Antikorupsi. Kami tetap laporkan kasus-kasus itu ke KPK. Jadi kolaborasi. Apalagi, dari segi kemampuan Polri memiliki tim surveillance terdidik, dan terlatih yang memahami teknis-teknis penyidikan dan penanganan tipikor. Jadi kenapa kami tak berkolaborasi? Bukan berarti kami ingin menyindir KPK, tidak. KPK bisa katakanlah jadi koordinasi pengawas, dalam kasus-kasus tertentu.

Jadi nanti dalam koordi­nasinya, KPK hanya sebagai pengawas saja?

Tidak juga. Bisa juga kami bentuk satuan tugas bersama antara KPK dengan polri. Misal KPK meminta bantuan ribuan penyidik polri untuk bergerak selama tiga bulan, dengan biaya dari mereka atau bersama. Tapi ketuanya dari KPK, agar tidak diintervensi. Lalu kalau ada kasus yang kami anggap tidak kuat diintervensi, masuklah KPK di situ.

Sudah sampai mana kes­iapan pembentukan Densus Antikorupsi itu?
Kami terus melaksanakan focus group discussion (FGD) internal dan eksternal untuk merumuskan bentuknya seperti apa. Sementara ini rencananya Densus Antikorupsi ini nanti­nya akan melibatkan asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Polri, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim), dan sat­uan kerja Polri lainnya.

Kalau kesiapan fasilitas­nya?
Kami sudah siapkan gedung­nya, yaitu gedung eks Polda Metro Jaya. Polda Metro Jaya akan pindah ke gedung 27 lan­tai yang ada di kawasan itu juga. Gedungnya juga keliha­tan dari Semanggi. Insyaallah Desember ini selesai, sehingga Kapolda Metro Jaya pindah ke sana, sehingga gedung yang sekarang bisa dipakai untuk Densus Anti-Tindak Pidana Korupsi.

FGD internal dengan siapa?
Kejaksaan Agung (Kejagung). Hasilnya kami berencana mem­buat satuan kerja bersama, untuk penanganan korupsi. Sehingga semua koordinasi akan dilaku­kan jauh lebih mudah. Perkara tidak perlu bolak balik.

KPK tidak diajak ikut FGD nih?
Saya sudah sempat sampaikan ke KPK. Prinsipnya mereka positif, dan menyatakan siap bersinergi dengan kami. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya