Berita

Pertahanan

Mantan Napi Teroris Dukung Pencegahan BNPT Lebih Efektif

JUMAT, 14 JULI 2017 | 16:26 WIB | LAPORAN:

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus meningkatkan koordinasi dan pelibatan masyarakat dalam menjalankan program penanggulangan terorisme di Indonesia.

Salah satuny dengan merekrut para mantan napi teroris (napiter) agar penanggulangan paham radikal terorisme dapat berjalan baik.

"Kami para mantan napiter pun siap mendukung penuh upaya-upaya pencegahan karena kami pernah 'berada' di sana sehingga banyak tahu seluk beluk sel-sel terorisme di Indonesia," ujar mantan teroris Agus Dwikarna di Jakarta, Jumat (14/7).


Ia menyarankan agar kegiatan-kegiatan pencegahan tidak banyak bersifat seremonial, tapi langsung menyentuh ke sasaran. Dengan adanya pelibatan masyarakat dan mantan napiter, upaya itu akan lebih mudah terutama dalam melakukan deteksi dini. Menurutnya, cara dan tujuan pelaku terorisme sekarang berbeda dengan dulu.

"Ghirah (hasrat) dan tujuan jihad di zaman kami berbeda dengan sekarang. Kalau dulu kami berangkat ke Afganistan dan Ambon murni ingin membela sesama muslim yang tertindas dan tidak pernah menyerang aparat secara membabi buta seperti sekarang ini. Artinya, pola propaganda sekarang berbeda, karena tujuannya juga berbeda. Karena itu, pelibatan mantan napiter mutlak, agar langkah pencegahan BNPT lebih efektif," papar pria yang pernah dipenjara 11 tahun di Filipina ini karena dituduh membawa bahan peledak di Bandara Ninoy Aquino, Filipina dan terlibat pada aksi terorisme pada 2002 lalu.

Pelibatan mantan napiter, lanjut Agus, bisa dengan berdiskusi dan dialog. Hal itu sangat positif karena juga bisa menjadi ruang muhasabah (koreksi diri) bagi para mantan napiter yang terlibat jaringan kelompok agar tidak mengulangi apa yang pernah dilakukan.

Terkait program pembinaan (deradikalisasi) yang dilakukan BNPT selama ini, Agus menilai itu sangat bagus dan harus terus ditingkatkan. Sebab yang terjadi selama ini adalah salah paham yang tidak berdasar.

"BNPT tentu tidak bisa berjalan sendiri, perlu keterlibatan teman–teman mantan napiter untuk mendekati kelompok–kelompok yang masih mempunyai pemikiran radikal tersebut," jelasnya.

Pada kesempatan itu, ia mengajak orang-orang yang masih terlibat aktif dalam jaringan terorisme, agar berpikir jernih.
"Apakah yang diperjuangkan itu betul-betul murni tuntunan aqidah atau jangan-jangan mereka telah tersusupi oleh pemikiran yang salah. Itu yang harus direnungkan," tukasnya.
 
Hal senada diutarakan Iqbal Husaini atau Romli atau Rambo, yang pernah mendekam di penjara selama empat tahun karena terlibat pengiriman senjata dalam konflik Ambon.

Menurut Rambo, adanya penolakan program deradikalisasi karena program itu masih belum membumi. Artinya, di kalangan masyarakat umum masih banyak yang tidak paham dengan program itu, bahkan ada yang antipati apalagi kelompok radikal.

"BNPT tidak bisa sendiri dan harus melibatkan tokoh agama dan mantan napiter karena sangat sulit 'mendekati' kawan-kawan yang masih memiliki pemikiran keras. Terlebih pola gerakan kelompok radikal sekarang tidak hanya di ranah offline, tapi telah menyasar dunia online (dunia maya)," terang Rambo.[wid]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya