Berita

Kondisi di Mosul/Reuters

Dunia

Pasukan Irak Dan Koalisi Mengarah Pada Kejahatan Perang Dalam Pertarungan Di Mosul

SELASA, 11 JULI 2017 | 15:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Serangan yang dilancarkan oleh pasukan Irak dan koalisi militer pimpinan Amerika Serikat untuk merebut kembali Mosul dinilai melanggar hukum humaniter internasional yang mungkin merupakan bentuk kejahatan perang.

Menurut Amnesty International (Selasa, 11/7), mereka telah mengidentifikasi pola serangan oleh pasukan Irak dan koalisi militer pimpinan AS.

Kelompok hak asasi manusia tersebut mengatakan dalam sebuah laporan bahwa kelompok militan Islam di wilayah tersebut telah secara mencolok melanggar undang-undang yang sama dengan sengaja menempatkan warga sipil dalam bahaya untuk melindungi pejuang mereka dan menghalangi kemajuan pasukan koalisi Irak.


Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengumumkan kemenangan di Mosul awal pekan ini, tiga tahun setelah ISIS merebut kota tersebut dan menjadikannya benteng "kekhalifahan" yang mereka katakan akan mengambil alih dunia.

Sebuah aliansi 100.000 unit yang kuat dari unit pemerintah Irak, pejuang pesmmerga Kurdi dan milisi Syiah telah melancarkan serangan pada bulan Oktober, dengan dukungan utama udara dan darat dari koalisi internasional.

Sebagian besar Mosul telah dihancurkan dalam penggeledahan pertarungan jalan-ke-jalanan, ribuan warga sipil telah terbunuh dan hampir satu juta orang meninggalkan rumah mereka.

Amnesty mengatakan pasukan Irak dan koalisi melakukan serangkaian serangan yang tidak sah di Mosul barat sejak Januari, dengan mengandalkan sejumlah bom bunuh diri berjejer, senjata peledak dengan kemampuan penargetan kasar yang mendatangkan malapetaka di daerah berpenduduk padat.

"Bahkan dalam serangan yang tampaknya telah mencapai sasaran militer yang mereka maksudkan, penggunaan senjata yang tidak sesuai atau kegagalan untuk melakukan tindakan pencegahan lain yang diperlukan mengakibatkan hilangnya nyawa orang-orang sipil yang tidak perlu dan dalam beberapa kasus tampaknya merupakan serangan yang tidak proporsional," kata laporan tersebut seperti dimuat Reuters.

Baik kementerian pertahanan maupun pejabat koalisi Irak segera bersedia memberikan komentar atas laporan Amnesti tersebut. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya