Berita

Ilustrasi/Net

Global

Diisolasi Di Kandang Sapi, Gadis Remaja Ini Tewas Digigit Ular

SENIN, 10 JULI 2017 | 17:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang gadis remaja di Nepal meninggal dunia karena digiit ular saat diasingkan di kandang sapi.

Ia adalah Tulasi Shahi berusi 19 tahun. Gadis asal distrik Dailekh, Nepal barat ini mengambil bagian dalam chhaupadi, sebuah praktik umum di bagian barat negara di mana wanita yang dianggap najis selama menstruasi, diasingkan selama masa menstruasi mereka.

Ia diasingkan ke kandang sapi saat tengah menstruasi. Ini adalah ritual yang biasa dijalani oleh Shahi dan wanita di wilayah tersebut.


Namun nahas, pekan lalu ia digigit ular berbisa di dalam kandang sapi milik pamannya saat ia tengah diasingkan seorang diri.

"Dua kali, di kepala dan kakinya," kata walikota distrik setempat Surya Bahadur.

Anggota keluarga Shahi awalnya berusaha untuk memperlakukannya dengan menggunakan pengobatan di rumah, sebelum membawanya ke pusat kesehatan setempat. Namun di pusat kesehatan tersebut, tidak ada obat anti-racun yang dibutuhkan.

Shahi adalah remaja kedua yang menjadi korban chhaupadi dalam waktu kurang dari dua bulan di Dailekh. Pada tanggal 22 Mei, gadis14 tahun, Lalsara Bika meninggal karena penyakit yang parah terkait flu selama tinggal dalam isolasi.

Akhir tahun lalu, dua gadis kehilangan nyawa mereka dalam keadaan yang sama di distrik Achham di dekatnya.

"Gadis-gadis dan wanita kita sekarat dan negara menjadi buta," kata penulis aktivis hak haid Radha Paudel.

Chhaupadi dilarang oleh Mahkamah Agung Nepal pada tahun 2005. Tiga tahun kemudian, pemerintah mengumumkan panduan untuk memberantasnya secara nasional, namun para aktivis mengatakan bahwa hal itu tidak menimbulkan perbedaan besar.

"Apa yang telah dikeluarkan pemerintah hanyalah sebuah pedoman, tidak ada yang bisa melapor ke polisi, tidak ada yang bisa mengajukan kasus. Anda tidak bisa menghukum siapapun karena mengirim gadis dan istri mereka ke gubuk ini," kata Paudel.

Aktivis mengatakan Nepal memiliki undang-undang untuk mengakhiri pernikahan anak, kekerasan dalam rumah tangga dan masalah khusus perempuan lainnya, namun tidak untuk hak menstruasi. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya