Berita

Foto: Repro

Nusantara

Kebocoran Anggaran DKI Jakarta Paling Besar

SENIN, 10 JULI 2017 | 07:50 WIB | LAPORAN:

Center for Budget Analysis (CBA) mencatat selama periode 2015-2016, potensi kebocoran anggaran dari 34 provinsi di Indonesia mencapai total Rp 15.083.175.086.687

Sepuluh provinsi di antaranya yang paling besar menyumbangkan angka potensi kebocoran anggaran.

Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama dengan potensi kebocoran anggaran dalam kuran waktu dua tahun terakhir yakni Rp12.429.265.632.192. Kedua, Provinsi Maluku potensi kebocoran anggaran sebesar Rp 821.814.307.032. Ketiga, Jambi Rp565.679.670.491


Keempat, Jawa Timur Rp203.329.462.583. Kelima Papua Rp157.765.423.137. Keenam, Riau Rp155.490.259.415. Ketujuh, Jawa Barat Rp119.681.779.790. Kedelapan, Sumatera Selatan Rp60.592.055.389. Kesembilan, Sumatera Barat Rp58.668.059.748. Terakhir di urutan buncit adalah Lampung sebesar Rp 46.066.501.844

Koordinator Advokasi CBA, Sadam Bustamal menilai pemerintahan Jokowi tidak punya opsi apapun mengatasi tingginya potensi kebocoran anggaran. Malah justru mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administrasi Pimpinan dan Anggota DPRD.

"Sebetulnya yang harus keluar itu, payung hukum untuk memperkuat agar DPRD intens melakukan pengawasan terhadap eksekutif. Namun apa dikata yang muncul malah PP nomor 18 tahun 2017," kritiknya dalam rilis tertulis yang diterima redaksi, pagi ini (Senin, 10/7).

PP tersebut, menurut dia, tidak lain hanyalah dalih pemerintah Jokowi untuk menaikkan pendapatan anggota DPRD secara halus agar tidak diketahui publik. Langkah ini hanya bikin anggota dewan semakin kaya dan makmur.

"Bisa jadi, pemerintah Jokowi berharap dengan ditertibkannya Peraturan Pemerintah agar anggota DPRD tidak melakukan korupsi lantaran gaji atau pendapatan mereka sudah dinaikkan," tengarainya.

Padahal, tegas Sadam, tingginya kebocoran anggaran di tiap provinsi bukan karena pendapatan DPRD itu kecil. Tetapi, selama ini ada 'main mata' antara legislatif dengan eksekutif agar aman dalam permainan proyek proyek APBD. Dengan demikian, DPRD yang punya kewenangan dalam mengawasi eksekutif menjadi lumpuh.[wid]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya