Berita

Foto/Net

On The Spot

Kakak Mulyadi Sering Berbaur Dengan Warga

Pelaku Penusuk Polisi Tak Begitu Dikenal Tetangga
JUMAT, 07 JULI 2017 | 10:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mulyadi, pelaku penusukan dua polisi di Masjid Falatehan, Kompleks Perum Peruri, Jakarta Selatan, sempat tinggal di rumah kakak iparnya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dari hasil investigasi kepoli­sian, Mulyadi diketahui pernah tinggal bersama Hendriyanto, kakak iparnya, dan juga Nismardani, kakak kandungnya. Mereka tinggal di Perumahan Cikarang Baru, Jalan Kedasih VII, Blok D/1, Nomor 135, RT 2 RW 9, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pantauan Rakyat Merdeka, Selasa (4/7), rumah tempat tinggal keluarga kakak Mulyadi terbilang sederhana. Rumahnya berada di komplekss peruma­han dengan ukuran bangunan seragam. Lebar depan sekitar enam meter dan panjang sekitar 10 meter.


Tidak ada yang istimewa dari bangunan rumah milik keluarga Mulyadi, maupun rumah para tetangganya. Rumahnya ber­cat biru, dengan pagar coklat. Tampaknya rumah ini telah men­galami perubahan warna dari aslinya. Sementara beberapa rumah warga lain yang berada di sekitarnya telah direnovasi dengan menambahkan lantai bangunan menjadi dua lantai.

Hari itu, rumah dengan sebuah pohon di depannya itu tampak sepi. Tak ada aktivitas mencolok yang dilakukan pen­ghuni rumah. Saat diketuk pun, tidak ada jawaban dari dalam. Pintu gerbang dan pintu akses masuk ke dalam rumah tertutup rapat. Suasananya sunyi.

Berbeda dari rumah tersebut, suasana di sekitar rumah keluarga kakak Mulyadi lebih ramai. Meski jalan kompleks cukup sempit, hanya bisa untuk kendaraan roda empat berpapasan, namun aktivi­tas warga cukup ramai.

Hari itu, sejumlah warga dan ibu-ibu pengajian sedang berbin­cang-bincang, tak jauh dari rumah keluarga kakak Mulyadi. "Ya, memang itu rumahnya," ka­ta seorang wanita berhijab saat ditanya mengenai keberadaan rumah keluarga Mulyadi.

Menurut wanita yang meno­lak menyebut identitasnya itu, keluarga Mulyadi dikenal ra­mah dan mau membaur dengan warga sekitar. Keluarga tersebut, kata dia, tidak segan untuk ikut dalam aktivitas warga sekitar perumahan.

"Yang saya tahu mereka cu­kup aktif sebagai warga. Enggak kelihatan ada yang aneh, atau berbeda dari warga lainnya, termasuk dari cara berpakaian. Kalau si Mulyadi memang warga enggak terlalu kenal," ucapnya.

Mulyadi diketahui memi­liki usaha penjualan parfum di Pasar Roxy, Cikarang. Kiosnya disebut berada di Blok CA No 6, Cikarang Baru, Bekasi. Toko parfumnya bernama Mutiara Parfum. Saat didatangi, tak lama setelah aksi penusukan, toko tersebut tutup.

Yuli, penjaga toko di sebelah toko parfum itu mengaku mengenalMulyadi. Dia memanggil pria itu dengan nama Mul. "Mul itu yang suka belanja, dan ini usaha kosmetik keluarga sepertinya. Dia jualan di Roxy ini su­dah 3-4 tahun," kata Yuli.

Menurut Yuli, Mul memi­liki kakak yang juga bekerja di ruko kosmetik tersebut. Mul dikenal ramah, rajin salat dan sering menggunakan pakaian gamis. Selain ibadah, menurut Yuli, Mulyadi tidak pernah menunjukkan menganut paham tertentu. "Saya lihat juga di toko pas malam takbiran, dan toko bukanya cuma sampai sore. Di dalam pasar ini, ada tiga toko kosmetik dan paling laris yang ini, mungkin karena lebih leng­kap," jelasnya.

Mulyadi melakukan aksinya di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan. Pasca aksi tersebut, aktivitas ibadah di Masjid Falatehan berjalan normal. Dari pantauan, aktivitas salat zuhur berjamaah di mesjid Falatehan berjalan seperti biasa. Sejumlah jamaah tetap khusyuk. Tampak dua shaf makmum berjajar mengikuti salat berjamaah di dalam masjid.

Jamaah berasal dari berbagai golongan. Ada beberapa pria berseragam polisi dan jamaah lainnya beribadah di Masjid. Tempat wudhu laki-laki berada di kanan dan tempat wudhu perempuan di kiri. Salat berja­maah berlangsung sekitar 15 menit dan diakhiri doa.

Tidak tampak kerisauan dari wajah jamaah usai salat. Namun kali ini, sejumlah anggota ke­polisian siaga dengan senjata saat memasuki masjid untuk ikut salat berjamaah. Namun, saat salat mereka meletakkan senjatanya di lantai.

Pengurus Masjid Falatehan mengecam penusukan terhadap dua anggota Brimob usai salat Isya di masjid tersebut. Mereka berencana memasang CCTV agar lebih mudah mengawasi kondisi masjid. "Iya, rencananya memang mau pasang," ujar pengurus Masjid Falatehan, Chairudin di masjid ini.

Chairudin mengatakan, ren­cana memasang CCTV tersebut sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama, namun belum terealisasi. CCTV tersebut penting untuk mengawasi kondisi masjid karena banyak jamaah yang singgah untuk salat.

"Terutama mengawasi yang di luar, sepatu, kunci loker banyak yang hilang. Juga men­gawasi penjahat-penjahat yang suka ngambil tas jamaah," kata Chairudin.

Menurutnya, banyak orang yang kerap singgah di masjid itu saat waktu salat tiba. Mereka juga sering beristirahat untuk melepas lelah. "Orang kan ada yang suka tidur-tiduran. Tidur betulan atau sambil mengawasi orang," tuturnya.

Latar Belakang
Usai Salat Berjamaah, Pelaku Teriak Thogut & Tikam 2 Polisi


Seorang pria bernama Mulyadi, menikam dua polisi di Masjid Falatehan, dekat lapanganBhayangkara, Jakarta Selatan, Jumat (30/6) malam. Informasi pihak kepolisian me­nyebutkan, pelaku awalnya sedang menunaikan ibadah salat Isya di Masjid itu.

Sejumlah personel Polri yang sedang berjaga dalam rangka Hari Raya Idul Fitri juga ikut salat di tempat itu. Saat salat usai dan jamaah sedang bersalam-salaman, pelaku tiba-tiba ber­teriak thogut dan mengeluarkan sebilah sangkur.

Mulyadi kemudian menikam polisi di sekitarnya dengan membabi buta. Usai menikam aparat, pelaku yang mengena­kan baju biru serta jeans biru ini, sempat mengancam jamaah masjid sembari mengacung-acungkan pisau tersebut. Dia terus berteriak thogut.

Selanjutnya disebutkan, pelaku berlari ke arah Terminal Blok M, setelah melakukan ak­sinya. Aparat di sekitar lokasi sempat melepaskan tembakan peringatan agar pelaku ber­henti. Namun, pelaku malah berbalik arah dan menantang aparat sambil terus menga­cung-acungkan pisau.

Polisi pun melumpuhkan pelaku dengan timah panas, dan Mulyadi akhirnya jatuh tersungkur. Pelaku tewas seke­tika. Dua aparat yang terkena tikaman adalah AKP Dede Suhatmi (Detasemen IGegana) dan Briptu M Syaiful Bakhtiar (Detasemen III Pelopor).

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Rikwanto, kejadian pukul 19.30 WIB usai salat isya berjamaah di Masjid Falatehan di samping lapangan Bhayangkara Mabes Polri. Saat itu terjadi penusukanterhada AKP Dede dan Briptu Saiful Bahri dari kesatuan Brimob Mabes Polri.

"Keduanya terkena tusukan di bagian leher dan muka," ucapnya.

Rikwanto membeberkan, keja­dian bermula saat salat isya ber­jamaah ada tiga baris, terdiri dari anggota Brimob dan masyarakat umum. Salat berjalan lancar sampai selesai. "Anggota ter­luka dilakukan perawatan di RSPP. Setelah melukai korban, pelaku melarikan diri ke arah Blok M Square. Namun, berkat kesigapan anggota Brimob yang lain, yang tidak jauh dari masjid, pelaku lalu dikejar," terang Rikwanto.

Juned, marbot Masjid Falatehan, menjadi salah satu jamaah yang salat saat terjadi penusukan terhadap dua personel Brimob. Dia mengaku tak pernah melihat pelaku salat di masjid itu sebelumnya. "Kemungkinan baru kali ini salat di Masjid Falatehan," ujar Juned.

Menurut Juned, pelaku salat di saf terakhir, yakni saf ketiga sebelah kanan. Saf tersebut tidak penuh karena masih dalam sua­sana libur Lebaran dan banyak yang belum aktif bekerja.

"Kalau jamaah memang hari libur tak ada orang, cuma ke­betulan selama ini ada Brimob. Kalau masyarakat tidak, cuma pedagang asongan," ujarnya.

Menurut Juned, Masjid Falatehan terbuka untuk umum. Jamaahnya pun beragam, namun didominasi polisi karena lokas­inya dekat Mabes Polri.

Menurutnya, jika tidak dalam suasana libur panjang, jamaah salat maghrib dan isya cuk­up banyak, hampir memenuhi masjid. "Ini masjid transit saja. Ini hari Lebaran, jadi tidak ada orang, kalau normal magrib penuh," tuturnya. ***

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

ANTAM Salurkan Ratusan Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Operasional

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:11

Purbaya Tak Tahu Menahu Anggaran Rp100 Miliar untuk Sapi Kurban Prabowo

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:10

Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada 27-28 Mei, Momen Cek Arah Kiblat

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02

Erdogan Serukan Solidaritas untuk Gaza dalam Pesan Iduladha 1447 H

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02

Menkes Ungkap Penyebab Kolesterol Naik Setelah Makan Daging Kambing

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:57

Warga Pati Jadi Korban Penipuan Masuk Akpol Bayar Rp1,5 Miliar

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:37

Politisi PDIP Minta Indonesia Serius Tangani Regulasi Soal AI

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:25

Putusan MK Momentum Benahi Kaderisasi Politik Perempuan

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:20

Bandar Sabu Ngamuk saat Ditangkap, Polisi Kena Tusuk

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:15

Arus Kendaraan Melonjak Hampir 9 Persen, Jalur Trans Jawa-Bandung Paling Padat

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:11

Selengkapnya