Mulyadi, pelaku penusukan dua polisi di Masjid Falatehan, Kompleks Perum Peruri, Jakarta Selatan, sempat tinggal di rumah kakak iparnya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Dari hasil investigasi kepoliÂsian, Mulyadi diketahui pernah tinggal bersama Hendriyanto, kakak iparnya, dan juga Nismardani, kakak kandungnya. Mereka tinggal di Perumahan Cikarang Baru, Jalan Kedasih VII, Blok D/1, Nomor 135, RT 2 RW 9, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Pantauan Rakyat Merdeka, Selasa (4/7), rumah tempat tinggal keluarga kakak Mulyadi terbilang sederhana. Rumahnya berada di komplekss perumaÂhan dengan ukuran bangunan seragam. Lebar depan sekitar enam meter dan panjang sekitar 10 meter.
Tidak ada yang istimewa dari bangunan rumah milik keluarga Mulyadi, maupun rumah para tetangganya. Rumahnya berÂcat biru, dengan pagar coklat. Tampaknya rumah ini telah menÂgalami perubahan warna dari aslinya. Sementara beberapa rumah warga lain yang berada di sekitarnya telah direnovasi dengan menambahkan lantai bangunan menjadi dua lantai.
Hari itu, rumah dengan sebuah pohon di depannya itu tampak sepi. Tak ada aktivitas mencolok yang dilakukan penÂghuni rumah. Saat diketuk pun, tidak ada jawaban dari dalam. Pintu gerbang dan pintu akses masuk ke dalam rumah tertutup rapat. Suasananya sunyi.
Berbeda dari rumah tersebut, suasana di sekitar rumah keluarga kakak Mulyadi lebih ramai. Meski jalan kompleks cukup sempit, hanya bisa untuk kendaraan roda empat berpapasan, namun aktiviÂtas warga cukup ramai.
Hari itu, sejumlah warga dan ibu-ibu pengajian sedang berbinÂcang-bincang, tak jauh dari rumah keluarga kakak Mulyadi. "Ya, memang itu rumahnya," kaÂta seorang wanita berhijab saat ditanya mengenai keberadaan rumah keluarga Mulyadi.
Menurut wanita yang menoÂlak menyebut identitasnya itu, keluarga Mulyadi dikenal raÂmah dan mau membaur dengan warga sekitar. Keluarga tersebut, kata dia, tidak segan untuk ikut dalam aktivitas warga sekitar perumahan.
"Yang saya tahu mereka cuÂkup aktif sebagai warga. Enggak kelihatan ada yang aneh, atau berbeda dari warga lainnya, termasuk dari cara berpakaian. Kalau si Mulyadi memang warga enggak terlalu kenal," ucapnya.
Mulyadi diketahui memiÂliki usaha penjualan parfum di Pasar Roxy, Cikarang. Kiosnya disebut berada di Blok CA No 6, Cikarang Baru, Bekasi. Toko parfumnya bernama Mutiara Parfum. Saat didatangi, tak lama setelah aksi penusukan, toko tersebut tutup.
Yuli, penjaga toko di sebelah toko parfum itu mengaku mengenalMulyadi. Dia memanggil pria itu dengan nama Mul. "Mul itu yang suka belanja, dan ini usaha kosmetik keluarga sepertinya. Dia jualan di Roxy ini suÂdah 3-4 tahun," kata Yuli.
Menurut Yuli, Mul memiÂliki kakak yang juga bekerja di ruko kosmetik tersebut. Mul dikenal ramah, rajin salat dan sering menggunakan pakaian gamis. Selain ibadah, menurut Yuli, Mulyadi tidak pernah menunjukkan menganut paham tertentu. "Saya lihat juga di toko pas malam takbiran, dan toko bukanya cuma sampai sore. Di dalam pasar ini, ada tiga toko kosmetik dan paling laris yang ini, mungkin karena lebih lengÂkap," jelasnya.
Mulyadi melakukan aksinya di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan. Pasca aksi tersebut, aktivitas ibadah di Masjid Falatehan berjalan normal. Dari pantauan, aktivitas salat zuhur berjamaah di mesjid Falatehan berjalan seperti biasa. Sejumlah jamaah tetap khusyuk. Tampak dua shaf makmum berjajar mengikuti salat berjamaah di dalam masjid.
Jamaah berasal dari berbagai golongan. Ada beberapa pria berseragam polisi dan jamaah lainnya beribadah di Masjid. Tempat wudhu laki-laki berada di kanan dan tempat wudhu perempuan di kiri. Salat berjaÂmaah berlangsung sekitar 15 menit dan diakhiri doa.
Tidak tampak kerisauan dari wajah jamaah usai salat. Namun kali ini, sejumlah anggota keÂpolisian siaga dengan senjata saat memasuki masjid untuk ikut salat berjamaah. Namun, saat salat mereka meletakkan senjatanya di lantai.
Pengurus Masjid Falatehan mengecam penusukan terhadap dua anggota Brimob usai salat Isya di masjid tersebut. Mereka berencana memasang CCTV agar lebih mudah mengawasi kondisi masjid. "Iya, rencananya memang mau pasang," ujar pengurus Masjid Falatehan, Chairudin di masjid ini.
Chairudin mengatakan, renÂcana memasang CCTV tersebut sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama, namun belum terealisasi. CCTV tersebut penting untuk mengawasi kondisi masjid karena banyak jamaah yang singgah untuk salat.
"Terutama mengawasi yang di luar, sepatu, kunci loker banyak yang hilang. Juga menÂgawasi penjahat-penjahat yang suka ngambil tas jamaah," kata Chairudin.
Menurutnya, banyak orang yang kerap singgah di masjid itu saat waktu salat tiba. Mereka juga sering beristirahat untuk melepas lelah. "Orang kan ada yang suka tidur-tiduran. Tidur betulan atau sambil mengawasi orang," tuturnya.
Latar Belakang
Usai Salat Berjamaah, Pelaku Teriak Thogut & Tikam 2 PolisiSeorang pria bernama Mulyadi, menikam dua polisi di Masjid Falatehan, dekat lapanganBhayangkara, Jakarta Selatan, Jumat (30/6) malam. Informasi pihak kepolisian meÂnyebutkan, pelaku awalnya sedang menunaikan ibadah salat Isya di Masjid itu.
Sejumlah personel Polri yang sedang berjaga dalam rangka Hari Raya Idul Fitri juga ikut salat di tempat itu. Saat salat usai dan jamaah sedang bersalam-salaman, pelaku tiba-tiba berÂteriak thogut dan mengeluarkan sebilah sangkur.
Mulyadi kemudian menikam polisi di sekitarnya dengan membabi buta. Usai menikam aparat, pelaku yang mengenaÂkan baju biru serta jeans biru ini, sempat mengancam jamaah masjid sembari mengacung-acungkan pisau tersebut. Dia terus berteriak thogut.
Selanjutnya disebutkan, pelaku berlari ke arah Terminal Blok M, setelah melakukan akÂsinya. Aparat di sekitar lokasi sempat melepaskan tembakan peringatan agar pelaku berÂhenti. Namun, pelaku malah berbalik arah dan menantang aparat sambil terus mengaÂcung-acungkan pisau.
Polisi pun melumpuhkan pelaku dengan timah panas, dan Mulyadi akhirnya jatuh tersungkur. Pelaku tewas sekeÂtika. Dua aparat yang terkena tikaman adalah AKP Dede Suhatmi (Detasemen IGegana) dan Briptu M Syaiful Bakhtiar (Detasemen III Pelopor).
Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Rikwanto, kejadian pukul 19.30 WIB usai salat isya berjamaah di Masjid Falatehan di samping lapangan Bhayangkara Mabes Polri. Saat itu terjadi penusukanterhada AKP Dede dan Briptu Saiful Bahri dari kesatuan Brimob Mabes Polri.
"Keduanya terkena tusukan di bagian leher dan muka," ucapnya.
Rikwanto membeberkan, kejaÂdian bermula saat salat isya berÂjamaah ada tiga baris, terdiri dari anggota Brimob dan masyarakat umum. Salat berjalan lancar sampai selesai. "Anggota terÂluka dilakukan perawatan di RSPP. Setelah melukai korban, pelaku melarikan diri ke arah Blok M Square. Namun, berkat kesigapan anggota Brimob yang lain, yang tidak jauh dari masjid, pelaku lalu dikejar," terang Rikwanto.
Juned, marbot Masjid Falatehan, menjadi salah satu jamaah yang salat saat terjadi penusukan terhadap dua personel Brimob. Dia mengaku tak pernah melihat pelaku salat di masjid itu sebelumnya. "Kemungkinan baru kali ini salat di Masjid Falatehan," ujar Juned.
Menurut Juned, pelaku salat di saf terakhir, yakni saf ketiga sebelah kanan. Saf tersebut tidak penuh karena masih dalam suaÂsana libur Lebaran dan banyak yang belum aktif bekerja.
"Kalau jamaah memang hari libur tak ada orang, cuma keÂbetulan selama ini ada Brimob. Kalau masyarakat tidak, cuma pedagang asongan," ujarnya.
Menurut Juned, Masjid Falatehan terbuka untuk umum. Jamaahnya pun beragam, namun didominasi polisi karena lokasÂinya dekat Mabes Polri.
Menurutnya, jika tidak dalam suasana libur panjang, jamaah salat maghrib dan isya cukÂup banyak, hampir memenuhi masjid. "Ini masjid transit saja. Ini hari Lebaran, jadi tidak ada orang, kalau normal magrib penuh," tuturnya. ***