Berita

Foto/Net

Bisnis

Hore, Pemerintah Tunda Naikkan Harga Gas Melon

Subsidi Energi Ditambah Rp 25 Triliun
JUMAT, 07 JULI 2017 | 10:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah menunda rencana menaikkan harga gas elpiji 3 kilogram (kg) tahun ini. Untuk merealisasikannya, Kabinet Kerja menambahkan subsidi Rp 25 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P).

Menteri Koordinator Pereko­nomian (Menkeu) Darmin Nasu­tion mengatakan, penambahan subsidi energi tersebut dilakukan karena ada kenaikan harga ko­moditas dunia, termasuk minyak dan gas.

"Subsidi bisa saja tidak di­naikkan, tapi harga jual (gas) harus disesuaikan. Hal ini tentu akan mempengaruhi daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Jadi, titik tengahnya pemerintah menunda kenaikan walaupun jumlah subsidi akan lebih ting­gi," ungkap Darmin di Gedung Parlemen, Jakarta, kemarin.


Darmin menyebutkan, kerangka perubahan anggaran, khususnya subsidi energi di RAPBN-P 2017 naik Rp 25,8 triliun, menjadi Rp 103,1 triliun dari APBN tahun ini yang dipa­tok Rp 77,3 triliun. Rinciannya, anggaran subsidi bahan bakar minyal (BBM) dan elpiji diusul­kan ditambah Rp 18,8 triliun dari Rp 32,3 triliun pada APBN 2017 sehingga menjadi Rp 51,1 triliun di RAPBN-P 2017. Terdiri dari, subsidi BBM tahun berjalan naik Rp 300 miliar menjadi Rp 10,6 triliun dari sebelumnya Rp 10,3 triliun. Sedangkan subsidi elpiji 3 kg meningkat paling tinggi sebesar Rp 18,5 triliun, dari Rp 22 triliun menjadi Rp 40,5 triliun di RAPBN-P 2017.

Selain harga komoditas naik, Darmin mengatakan, kenaikan subsidi BBM dan elpiji juga dipicu penundaan penyesuaian harga jual eceran tabung gas melon Rp 1.000 per kg, dan tidak berjalannya kebijakan pembatasan alokasi subsidi elpiji 3 kg (distribusi tertutup) Rp 10 triliun.

Sementara subsidi listrik di­usulkan naik Rp 7 triliun dari Rp 45 triliun di APBN 2017 men­jadi Rp 52 triliun. Hal tersebut, menurut Darmin, dipengaruhi faktor perubahan asumsi sebe­sar Rp 1,4 triliun, pembatasan subsidi listrik untuk pelanggan rumah tangga 450 volt ampere (VA) yang tidak berjalan sebesar Rp 3,9 triliun. "Penyebab lain­nya, alokasi untuk pembayaran kembali subsidi pelanggan 900 VA yang layak menerima sebe­sar Rp 1,7 triliun," paparnya.

Dengan penundaan tersebut, Darmin optimistis, daya beli masyarakat pada kuartal IIdan IIItahun ini akan membaik. Dia ber­harap, konsumsi rumah tangga bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi 2017.

Dia menuturkan, pelemahan daya beli masyarakat saat ini terjadi akibat mulai menurunnya ekspor sejak 2012. Menurutnya, pada awal tahun ini ekspor sebenarnya sudah mulai tumbuh positif, namun belum berdampak sampai mendongkrak daya beli masyarakat.

Darmin menilai, tren positif ekspor ke depan dapat terus berlanjut menjadi semakin baik. Karena, perekonomian global pada tahun ini juga mulai mem­baik. Dengan demikian, daya beli masyarakat akan semakin baik. Dalam RAPBN-P, pemer­intah memprediksi ekspor-impor tumbuh 4,8 persen serta 3,9 persen dari semula sebesar 0,1 persen dan 0,2 persen. Sedan­gkan, konsumsi rumah tangga yang diprediksikan tumbuh 5,1 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5 persen. "Sejak kuartal lalu semuanya positif. Kami percaya situasi mengarah ke perbaikan," katanya.

Oleh karena itu, Darmin men­gungkapkan, dalam RAPBN-P, pertumbuhan ekonomi 2017 di­patok sebesar 5, 2 persen. Angka itu lebih tinggi dari sebelumnya ditetapkan 5,1 persen.

Dia optimistis, target tersebut akan tercapai karena angka tersebut telah diperhitungkan dengan perkembangan ekonomi, perbaikan proyeksi ekonomi global tahun ini dari 3,4 persen menjadi 3,5 persen, dan mem­baiknya volume perdagangan dunia dari 3,7 persen jadi 3,8 persen.

DPR Dukung Penundaan

Anggota Komisi VII DPR Kurtubi merestui penundaan kenaikan harga gas melon. Na­mun demikian, Kurtubi mem­inta, pemerintah menyiapkan instrumen untuk menerapkan penyaluran subsidi elpiji 3 kg tepat sasaran.

Kurtubi mengatakan, bela­kangan ini elpiji 3 kg menjadi masalah dari sisi anggaran. "Har­ga gas sudah lama tidak naik, konsumennya pun meningkat. Masyarakat dan pebisnis yang relatif mampu juga pakai elpiji 3 kilo sehingga menimbulkan masalah anggaran. Pemerintah harus siapkan solusi mengatasi hal itu," ungkapnya. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya