Berita

Muhadjir Effendy/Net

Wawancara

WAWANCARA

Muhadjir Effendy: Presiden Perintahkan Porsi Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar 70 Persen

JUMAT, 07 JULI 2017 | 09:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri ini kekeh akan tetap menjalankan program sekolah 8 jam per hari, selama lima hari full setiap pekan alias full day school. Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta agar Mendikbud kembali mengkaji kebijakan full day school secara mendalam. Jokowi memutuskan menunda kebijakan tersebut set­elah melihat respons masyarakat. Berikut ini penuturan Menteri Muhadjir Effendy;

Sebetulnya secara hakikat apa sih perbedaan kebijakan full day school dengan ke­bijakan yang saat ini masih berjalan?

Orang kan khawatirnya karena anak bakal disuruh belajar 8 jam full di sekolah. Padahal enggak begitu. Sistem sekolah delapan jam dalam sehari itu tidak melu­lu berkaitan dengan pendidikan akademis. Sekolah delapan jam itu hanya bermaksud perbanyak pendidikan karakter melalui kegiatan kokurikuler dan ekstr­akurikuler. Hal ini sesuai dengan penerapan program nawacita yang diinginkan oleh Presiden dan Wakil Presiden.

Maksudnya?

Maksudnya?
Presiden langsung perintah­kan porsi pendidikan karakter di sekolah dasar dan menen­gah sebesar 70 persen. Dalam program ini, porsi penanaman karakter untuk siswa pada jen­jang pendidikan SD adalah 70 persen, sementara dan 60 persen untuk jenjang SMP adalah 60 persen. Awal jadi menteri saya langsung diserang isu full day school ini.

Padahal, dalam hati saya, Kemendikbud memang tidak per­nah punya niat untuk melaksana­kan kebijakan seperti itu. Delapan jam di kelas nggak mungkin, guru saja nggak kuat. Kalau kita me­maksa anak untuk belajar delapan jam, itu namanya penindasan.

Dengan adanya peruba­han ini akan berdampak pada kurikulum enggak?
Tidak. Perubahan porsi itu tidak memerlukan penggantian kurikulum, tetap Kurikulum 2013.

Banyak kalangan menilai sistem full day school berkeba­likan dengan sistem belajar di negara-negara dunia lainnya yang sistem pendidikannya sudah bagus seperti Finlandia dan Jepang?
Jangan membandingkan pen­didikan di Indonesia dengan kedua negara itu. Sistem pen­didikannya tidak bisa disamakan dengan Indonesia.

Kenapa?
Karena jumlah penduduk kedua negara itu hanya sekitar lima juta, tidak bisa dibanding­kan dengan Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa. Selain itu, walaupun jam sekolah empat jam, warga di sana pasti mempergunakan waktu anaknya di luar itu untuk pendidikan juga.

Program Anda ini dinilai akan mengganggu program pembelajaran di madrasah?

Sebetulnya program ini sama sekali tidak membatasi siswa untuk mendapatkan pendidikan agama. Sebab, dalam program lima hari sekolah itu, seluruh siswa hanya akan mendapatkan tambahan waktu untuk belajar di sekolah rata-rata selama satu jam dua puluh menit. Artinya, anak SD itu pulang dari yang biasanya menjadi pulang jam 12.10 WIB, SMP pulang jam 13.20 WIB. Itu artinya kalau masih ingin masuk ke madrasah diniyah masih sangat mungkin.

Artinya kebijakan ini juga akan diterapkan di madrasah?

Untuk saat ini masih kami tahan dulu. Tidak akan diterapkan sampai ada kesepakatan antara Kementerian Agama dan Kemdikbud. Jangan sampai yang belum clear, lalu jalan. Nanti malah timbul masalah kemudian.

Apakah penundaan penerapan kebijakan ini di ma­drasah, akan mengganggu jalannya program secara ke­seluruhan?
Tidak, madrasah itu kan hanya sekitar 20 persen saja dari seko­lah. Sebanyak 80 persennya itu masih bebas tidak terkait dengan pengadaan madrasah diniyah. Itulah yang akan kami priori­taskan. Beberapa sekolah sudah jalan. Intinya tetap berjalan, tidak dipaksakan, dan bertahap.

Terkait masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang masih semrawutba­gaimana?
Ya ini kan baru tahun ini kita terapkan. Jadi di lapangan pasti masih banyak kendala-kendala. Nanti saya akan minta edaran dari kementerian untuk menyikapi hal-hal tersebut.

Pihak sekolahnya akan dike­nakan sanksi atas masalah ini?
Untuk sekarang ini belum ada sanksi yang diberlakukan. Kami luwes dulu, tidak kaku - kaku.  ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya