Berita

Gedung DPR/Net

Politik

Jalan Tengah, Presidential Threshold 10-15 Persen Diharapkan Bisa Diterima

JUMAT, 07 JULI 2017 | 08:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Perdebatan RUU Pemilu masih berkutat soal lima isu krusial, terutama terkait ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold).

Perkembangan terbaru, opsi presidential threshold 10 persen kursi DPR atau 15 persen suara sah nasional, dinilai sebagai jalan tengah terbaik untuk mengakhiri kebuntuan pembahasan RUU Pemilu.

Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) yang sebelumnya ngotot mendorong opsi 0 persen mulai sepakat untuk mencari titik tengah.


Sekretaris Fraksi PAN yang juga Wakil Ketua Pansus RUU Pemilu, Yandri Susanto menyatakan opsi presidential threshold 10-15 persen bisa menjadi pilihan. Fraksi lain juga melihat opsi itu sebagai pilihan terbaik.

Sayang, parpol yang ngotot di angka 20-25 persen belum menunjukkan perubahan signifikan.

"Sinyal turun dari 20 persen ke 10 persen tetap ada. Tapi, yang dari 0 ke 10 persen lebih bisa menerima," kata Yandri, seperti dikabarkan JPNN, Jumat (6/7).

Menurutnya, agar pembahasan tidak alot, sebaiknya opsi tengah tersebut bisa dijadikan kesepakatan. Karena itu, sebaiknya setiap parpol bisa berpikir ulang dan tidak kaku dalam mengambil keputusan.

"Kalau 10 persen itu menjadi kata mufakat dan tidak ada kubu-kubuan dan voting-votingan, saya kira lebih baik," ucap Yandri.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani memiliki pendapat yang sama. Meski tidak spesifik menyebut angka, dia berharap semua parpol tidak lagi bersikeras dengan usulan masing-masing.

"Sebaiknya semua mulai memikirkan opsi jalan tengah, khususnya dalam memutuskan angka ambang batas pencapresan," katanya.

Muzani menyatakan, secara prinsip Partai Gerindra tetap memiliki penilaian bahwa ambang batas pencapresan tidak memiliki landasan hukum dalam pelaksanaan pemilu serentak.

Namun, faktanya, saat ini setiap partai masih ngotot dengan angka ambang batas masing-masing. Jika dibiarkan terus, pembahasan akan berlarut-larut dan merugikan publik.

Karena itu, seluruh partai maupun fraksi perlu berkomunikasi untuk mencapai titik temu tersebut. "Kami sudah bicara dengan semua fraksi. Diusahakan menghindari voting agar suara DPR satu," ujar ketua Fraksi Gerindra DPR itu. [rus]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya