Berita

TB Hasanuddin/Net

Politik

Strategi Teroris Berubah, Pemerintah Butuh Kewaspadaan Ekstra

KAMIS, 06 JULI 2017 | 03:19 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Strategi teroris di Indonesia sudah berubah dari terstruktur atau teroganisir menjadi non organisir atau gerakan inisiatif perorangan di wilayah masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Targetnya tetap membuat kerugian terhadap aparat keamanan yang dianggap thogut.

Begitu kata Wakil Ketua Komisi I DPR-RI, Tubagus Hasanuddin dalam menganalisa aksi teroris yang terjadi dalam waktu berdekatan di beberapa tempat.

Seperti bom panci di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur pada 24 Mei 2017, penyerangan di Mapolda Sumut pada 25 Juni 2017 yang menewaskan satu anggota polisi. Kemudian sehari berselang, tepatnya pada 26 Juni 2017, teror dengan secarik kertas diterima Satuan Lantas Polres Serang, Banten. Teranyar, adanya penusukan dua anggota polisi di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, pada 30 Juni 2017.


"Gerakan ini bisa jadi sudah tersebar di banyak titik, yang sewaktu-waktu dapat muncul atau bergabung bersama. Ini adalah bentuk kegagalan deradikalisasi di dalam negeri, maupun upaya memfilter dan mengawasi mereka yang baru kembali dalam pertempuran di Irak dan Suriah," jelasnya sebagaiamana keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (5/7).

Kata pria yang akrab disapa Kang TB iyu, pola gerak teroris dalam melakukan perlawanan sekarang ini memang seadanya, bisa dengan sangkur, pisau dan panah. Tapi, tujuannya untuk merebut senjata aparat keamanan, seperti modus teroris yang terungkap saat penyerangan di Mapolda Sumut dan Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah senjata aparat keamanan berhasil direbut, pelaku teror itu akan melakukan gerilya kota, menembak dengan cara hit and run.

"Tidak mustahil, setelah beberapa pucuk senjata direbut, mereka melakukan penyerbuan terbatas terhadap pos keamanan tertentu. Untuk itu, sekali lagi, pemerintah harus benar-benar mampu mengorganisir kekuatan yang dimiliki guna menghadapi teroris,' sambungnya.

Catatan lainnya, lanjut politisi PDIP itu, pemerintah harus menertibkan akun-akun di sosial media yang kerap melakukan provokasi dan menyebarkan ujian kebencian.

"Sebab, mencermati dari aksi penikaman dua polisi di Masjid Falatehan yang dilakukan Mulyadi, ternyata si pelaku bukanlah jaringan teroris ISIS, tapi tindakan Mulyadi dilakukan karena terkoptasi dengan postingan kelompok pro ISIS di sosial media," pungkas Kang TB. [ian]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya