Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Kata Fahri, Kasus E-KTP Lebih Banyak Khayalan Ketimbang Kenyataan

RABU, 05 JULI 2017 | 00:53 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kasus korupsi proyek KTP elektronik (e-KTP) lebih banyak khayalannya ketimbang kenyataan.

Begitu kata Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menanggapi penanganan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi di proyek yang diduga merugikan negara Rp 2,3 triliun itu.

Fahri kemudian menjabarkan awal mula tercetusnya proyek ini. Kata dia, proyek e-KTP bermula pada tahun 2010 atau 7 tahun lalu ketika Kemendagri dan Komisi II DPR menyepakati modernisasi data kependudukan.


"Ini adalah ikhtiar yang luar biasa. Kita membangun negara modern dari inisiatif e-KTP ini. Sayangnya kemudian jadi kasus e-KTP," jelasnya dalam akun Twitter @Fahrihamzah, Selasa (4/7).

"Lalu dana proyek EKTP ini masuk APBN 2011 setelah menurut tuduhan KPK ada bancakan uang Rp 2,3 triliun," sambung Fahri.

Fahri menyebut tuduhan KPK bahwa ada bancakan dalam proyek ini sebelum tender, tidak masuk akal. Terlebih total bancakan itu terbilang sangat besar, bahkan hampir separuh dari total nilai proyek tersebut.

Kata dia, uang yang disebut KPK digunakan untuk bancakan itu pasti bukan uang negara. Ini lantaran dugaan bancakan terjadi akhir tahun 2010 atau terjadi sebelum ada tender, apalagi pembayaran APBN.

"Maka uang siapakah itu? Andi Norogong?  Uang dari mana dia? Berani betul dia habiskan untuk sesuatu yang belum pasti?," tanyanya.

"Atau uang ketua konsorsium yang kebetulan BUMN PT. PNRI? Tapi mustahil karena BUMN diaudit oleh BPK," sambungnya lagi.

Lebih aneh lagi, sambung Fahri, ada proyek berjalan meski 50 persen total uangnya sudah hilang duluan. Terlebih dalam kasus ini, proyek e-KTP sudah selesai.

"Tapi coba kita pakai logika KPK. Besar proyek Rp 4,7 triliun. Bancakan di awal Rp 2,3 triliun. Sisa Rp 2,4 triliun. Dari sisa Rp 2,4 triliun berapa yang dibelanja? Proyek Rp 4,7 triliun berapa sih untungnya? Katanya kerugian negara Rp 2,3 triliun lebih?," tanya Fahri.

"Jadi proyeknya untungnya berapa? Kok proyek bisa selesai? Selesai pakai uang siapa? Ajaib bukan?," tanyanya lagi.

Lebih lanjut, Fahri menyindir KPK yang gagal menemukan anggota DPR yang dinilai telah melakukan bancakan tersebut.

"Siapa mereka? Masak uang Rp 2,3 triliun nggak ketemu? Rp 10 juta aja kena OTT," pungkasnya. [ian]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya