Berita

Polisi Ditusuk/RMOL

Pertahanan

Serangan Teror Ke Polisi Di Masjid Falatehan Karena Perbedaan Ideologi

MINGGU, 02 JULI 2017 | 01:25 WIB | LAPORAN:

Ada perbedaan mendasar dari terduga pelaku teror dengan calon korbannya. Artinya, para terduga pelaku memang sudah memiliki ideologi berbeda sebelum melancarkan aksinya.

"Tidak ada yang janggal. Serangan di mesjid, sehabis salat, dalam suasana lebaran menunjukkan bahwa ideologi mereka sangat berbeda dari ideologi umumnya orang Indonesia," terang pakar teroris Universitas Indonesia, Al Chaidar kepada RMOL, Sabtu (1/7).

Meski demikian, para terduga pelaku teror, urai Al Chaidar, tetap menjalankan perintah agama islam. Seperti yang dilakukan terduga pelaku teror di masjid Falatehan, Jakarta Selatan, Jumat (30/6) malam.


"Agama yang mereka anut  sangat berbeda dari agama mayoritas masyarakat. Mereka memandang bahwa merekalah yang paling islami, paling benar, paling lurus dibandingkan orang lain. Meskipun bersyahadat, salat, puasa, zakat dan haji yang sama," papar Al Chaidar.

Seperti diketahui, seorang terduga teroris terpaksa dilumpuhkan karena melukai dua anggota brimob, Jumat malam. Aksi tersebut dilakukan saat korban dan pelaku sama-sama salat isya berjamaah di Masjid Falatehan.

Al Chaidar memastikan terduga pelaku yang tewas diujung peluru itu sebagai pelaku tunggal (Lone Wolf).

Aksi terorisme Lone Wolf sempat menjadi kekhawatiran Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Dalam sebuah pernyataannya akhir tahun lalu, Tito mengatakan, pelaku aksi teror tipe Lone Wolf  kerap bergerak sendiri.

Selain itu, mereka juga mempelajari semua teknis dan persiapan secara otodidak. Termasuk menyiapkan rencana operasi dan target eksekusi.

"Yang agak rawan adalah yang lone wolf. Mereka belajar sendiri dari internet. Mereka radikalisasi sendiri, kemudian melakukan operasi sendiri. Memang jarang terjadi, dan impact (dampak)-nya kecil," ungkap mantan Kepala Densus 88 Antiteror Polri tersebut saat itu.[san]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya