Berita

Pertahanan

Polisi Tidak Profesional, Pelaku Berpisau Kenapa Harus Ditembak Mati?

SABTU, 01 JULI 2017 | 08:57 WIB | LAPORAN:

Polisi dianggap melakukan blunder karena mengeksekusi mati terduga teroris di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat malam (30/6).

Tembak mati terduga teroris tidak sesuai dengan standar penanganan atau SOP yang seharusnya hanya melumpuhkan pelaku.

"Jika melihat kondisi pelaku, jika polisi taat SOP, seharusnya tidak perlu ditembak mati. Cukup dilumpuhkan," ungkap Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta Pane, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu pagi (1/7).


Eksekusi mati terduga teroris adalah penindakan hasil penilaian sendiri atau diskresi petugas di lapangan. Namun, saat insiden di Falatehan terjadi, pelaku hanya menggunakan senjata tajam (sajam) yang digunakan untuk menusuk anggota polisi.

Selain itu, upaya melumpuhkan pelaku sebenarnya dapat dilakukan dengan menembak bagian kaki, tangan atau bagian tubuh yang tidak mematikan.

"Sayangnya polisi tidak profesional dan lebih doyan mengeksekusi pelaku yang hanya bersenjata tajam. Sehingga motif pelaku tidak terungkap," sesal Neta.

Padahal jika pelaku dibiarkan hidup maka kepolisian bisa leluasa menelusuri keberadaan teroris lain sekaligus mendalami motif pelaku.

"Polri seharusnya bisa membongkar motif, termasuk, siapa otak di belakang aksi penyerangan terhadap polisi. Terutama aksi penyerangan di dekat Mabes Polri tersebut," tuturnya.

Kelemahan dalam hal diskresi tersebut sempat menimbulkan geram Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Dalam pidatonya di Mabes Polri, 24 April lalu, mantan Kapolda Metro Jaya itu mengakui banyak anggotanya di lapangan paham tentang diskresi, tapi tidak paham dengan prakteknya.

Kemampuan diskresi yang kerap menjadi blunder itu pun membuat Tito menegur Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Kalemdiklat) Polri, Komisaris Jenderal Pol Moechgiyarto. Tito mengingatkan agar Kalemdiklat Polr mengutamakan hal diskresi dalam pelajaran ke anggota.  

"Jangan sampai berlebihan padahal tidak ada ancaman apa-apa terhadap publik," kata Tito saat itu.

Kemarin malam, pelaku penusukan dua anggota Brimob tewas setelah ditembak polisi di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sebelum dieksekusi mati, pelaku sempat melukai dua anggora Brimob dengan sangkur saat salat isya berjamaah di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saat ini, dua korban dari Satuan Brimob, Kelapa Dua, Depok itu telah dirawat di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. [ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya