Berita

Andi Hamzah/Net

Hukum

KPK Diminta Berkaca Ke Lembaga Anti-Korupsi Korsel

RABU, 28 JUNI 2017 | 06:52 WIB | LAPORAN:

. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dihimbau untuk memberi porsi besar terhadap pencegahan dibandingkan penindakan. Bahkan lembaga antirasuah itu juga diminta untuk mencontoh Korea Selatan (Korsel) dalam pemberantasan korupsi.

Pakar hukum pidana Prof. Andi Hamzah menjelaskan keberhasilan negara Korsel dalam memberantas korupsi yakni mempelajari semua celah-celah untuk berbuat tindak pidana korupsi.

Hal tersebut membuat Korsel tidak mengedepankan penindakan dan penuntutan.


"Itu kerja KPK di Korsel dan berhasil. KPK di Korsel itu khusus untuk mencegah, dia pelajari semua lubang-lubang korupsi dan itu ditutup," ujar Andi acara silaturahmi dan bincang santai bertema 'Quo Vadis Hukum di Indonesia' di Sheraton Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (27/6).

Lebih lanjut Andi juga menyarankan Indonesia tidak perlu seperi negara Republik Rakyat Tiongkok yang menghukum mati para koruptor. Namun hukuman mati tersebut hanya bersifat tebang pilih, dan hanya menyasar kepada terapkan kepada masyarakat kelas menengah. Untuk keluarga perdana menteri tidak akan bisa tersentuh vonis hukuman mati.

‎Menurut Andi, idealnya, 70 persen kinerja KPK dialihkan pada pencegahan korupsi, menganalisa dan menutup celah potensi korupsi. Sisanya 30 persen dialihkan pada bidang penindakan seperti mekanisme yang dijalankan di Malaysia.

"Jadi saya usulkan, seperti Malaysia, KPK disana itu 70 persen harus mencegah, korupsi hanya 30 persen penindakan," ungkapnya.

Andi menambahkan, meski persentase pencegahan ditambah. Pemerintah juga harus mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebab, menurut Andi, permasalah korupsi di Indonesia tidak jauh dari urusan kebutuhan. Terlebih, hukuman yang diberikan terhadap koruptor cenderung tinggi, namun disisi lain penghasilan para pejabatnya tergolong rendah.

‎"Kalau di Belanda dihukum berat karena gajinya tinggi masih korupsi. (Indonesia) prevensi kurang dijalankan, pencegahan terjadinya korupsi kurang jalan. Jadi nanti penjara penuh, korupi jalan terus," pungkas Andi. [rus]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya