Berita

Qatar/Net

Publika

Qatar Korban Perselisihan Politik Arab Saudi Dan Iran, Indonesia Tak Perlu Ikut Campur

SENIN, 19 JUNI 2017 | 16:15 WIB

KONFLIK terburuk sepanjang sejarah Timur Tengah kini melanda Qatar, 7 (tujuh) negara Teluk Arab diantaranya Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Yaman dan dua negara lainya memutuskan hubungan diplomatik. Pemutusan ini disiyalir disebabkan oleh pernyataan Emirat Qatar yang menyebutkan "Iran sebagai kekuatan Muslim Dunia dan mengkritisi kebijakan Donald Trump terhadap teheran" dan tuduhan keterlibatan memberikan dukungan dana pada gerakan radikalisme dan terorisme sebut saja Al-Qaeda maupun Ikhwanul Muslimin.

Dengan cepat pandangan ini dibantah keras doha dengan alasan bahwa pernyataan Emirat Qatar itu peretasan oleh hacker dan terkait terorisme tidak ada bukti keterlibatan Qatar memberikan dukungan justru pemeritahnnya konsisten memerangi terorisme hingga ke akar-akarnya. Sanggahan ini pun tidak merubah pendirian Arab Saudi dan sekutunya untuk memblokade Qatar.

Qatar dengan jumlah penduduk mencapai 2,5 juta jiwa dan luas wilayah 11571 kilometer persegi merupakan anggota Gulf Cooperation Council (GSS) yang didirikan sejak tahun 1981 bersama Arab Saudi, Oman, Kuwait dan UEA. Arab Saudi dan Qatar adalah  negara muslim yang kaya dan maju dengan melimpahnya ketersediaan gas dan minyak dunia. Qatar dengan pendapatan perkapita terbesar di dunia dan penyumbang minyak terbesar dunia mencapai 30% dan pengimport pangan 40% merasa diperlakukan tidak adil atas perselisihan ini, karena segala tuduhan yang ditujukan padanya sangat politis dan merugikan semua pihak, tidak hanya pemerintah Qatar tetapi masyarakat dunia, para tenaga kerja asing dan negara-negara berkepentingan lainnya seperti Iran, Turki dan Rusia.


Pemutusan akses udara, darat dan laut adalah langkah skeptis Arab dan sekutunya sebagai bentuk puncak kemarahan aliansi 7 (tujuh) negara teluk Arab terhadap Qatar yang disinyalir selalu menampakan perbedaan dalam kebijakan politik luar negerinya seperti dukungan terhadap Mursi (Mantan Presiden Mesir) hingga kejatuhannya, ditambah kedekatannya pada Iran dan Israel yang jelas musuh Kelompok Arab dan sekutunya.

Upaya perdamaian pun dilakukan oleh berbagai pihak seperti Presiden Erdogan dari Turki, anggota Gulf Cooperation Council (GSS) Kuwait, Vladimir Putin dari Rusia dan terus mengajak negara-negara lain untuk terlibat dalam upaya perdamaian konflik tersebut. Lalu bagaimana peran Indonesia, secara geopolitik Indonesia tidak memiliki kepentingan besar dalam perselisihan ini paling memastikan keselamatan WNI di Qatar. Untuk itu, Indonesia dapat menggunakan politik luar negeri bebas aktifnya dengan bersikap netral, tidak berpihak pada negara manapun.

Dalam kacamata penulis konflik ini tidak ada hubungannya dengan ekonomi sebagaimana penjelasan diatas. Ini benar-benar masalah politik untuk melemahkan kekuatan Islam. Keanehan pun terjadi disaat Arab Saudi gencar-gencar nya membangun kekuatan Islam, ia memberanikan diri memunculkan konflik ini dengan berbagai alasan politis, dan seolah-olah Qatar biang masalahnya, sungguh pandangan yang sangat beresiko menyebabkan Qatar terisolasi dan terlihat menjadi korban perselisihan politik Arab Saudi dan Iran.

Sejatinya perselisihan ini dapat diselesaikan melalui forum GCC Gulf Cooperation Council (GSS) maupun aliansi negara-negara muslim yang digagas Arab Saudi, tapi hingga saat ini belum bisa dilakukan,  wajarlah ketika dinamika ini dimanfaatkan oleh Sekutu Iran yang seolah-olah melindungi atau Amerika sebagai sekutu Arab Saudi yang seolah-olah paling benar dengan tujuan agar Qatar berpihak pada salah satu blok tersebut atau tidak keduanya, bagi Qatar kerjasana antar negara itu penting selama mengutungkan kedua belah pihak. kalaupun tidak seperti itu mungkin konflik ini sengaja dibuat untuk melemahkan kekuatan Aliansi negara-negara muslim atau Gulf Cooperation Council (GSS). Maka jika situasi semakin tidak terkendali, ini kerugiaan besar bagi negara-negara muslim dan akan menghambat terwujudnya perdamaian di negara-negara Timur Tengah. [***]

Sarief Saefulloh
Penulis adalah Vice Presiden ASEAN Muslim Student Association (AMSA) sekaligus Alumni Mahasiswa Politik Islam (Siyasah) UIN SGD Bandung

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya