Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Humorologi Kebahagiaan

MINGGU, 18 JUNI 2017 | 08:16 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TERKADANG kisah humor mampu lebih menjelaskan makna apa yang disebut sebagai kebahagiaan ketimbang ilmu filsafat yang paling serius.

Misalnya kisah humor tentang upaya seseorang petani mencari kebahagiaan bisa  menjelaskan makna hakiki kebahagiaan secara lebih sederhana maka jernih ketimbang teori teori ilmu filsafat yang paling rumit maka membingungkan: Seorang petani berkunjung ke pertapaan seorang ulama yang tersohor arif-bijaksana untuk memohon petunjuk bagaimana cara meraih kebahagiaan. Sang ulama bertanya “Hewan ternak apa saja yang kau miliki ?” Sang petani menjawab “ Dua lusin ekor ayam, selusin kambing, enam kuda dan enam sapi “. “Di mana mereka tidur?”,  “Di kandang “. Lalu sang ulama bersabda “Sekarang kamu segera pulang ke rumahmu dan setiap malam biarkan seluruh hewan ternakmu tidur di dalam rumahmu “Sang petani segera pulang ke rumah lalu memboyong seluruh hewan ternaknya masuk ke dalam rumahnya sesuai petunjuk sang ulama arif-bijaksana.

Berselang seminggu kemudian, sang petani kembali berkunjung ke pertapaan sang ulama arif-bijaksana sambil bersungut-sungut kepada sanga ulama  “Apanya yang bahagia ? Rumah saya dipadati dua lusin ayam, selusin kambing, enam kuda dan enam sapi hingga seisi rumah berbau busuk akibat tumpukan kotoran dan bau kentut empatpuluhdelapan ekor hewan sialan itu!“  Sang ulama menggangguk-anggukan kepala sambil arif bijaksana bersabda “Bagus! Silakan kini kamu kembali ke rumahmu lalu usir semua hewan ternakmu ke luar rumahmu untuk kembali ke kandang masing-masing!”.  


Sang petani bergegas kembali ke rumahnya demi melaksanakan petunjuk sang ulama arif-bijaksana. Setelah para hewan-ternak kembali ke kandang masing-masing, sang petani tidak pernah kembali menghadap sang ulama sebab akhirnya sudah berhasil menemukan kebahagiaan.

Dari kisah petani tersebut dapat disadari bahwa pada hakikatnya apa yang disebut sebagai kebahagiaan merupakan suatu bentuk perasaan yang secara subyektif sekaligus kontekstual ruang dan waktu mau pun kondisi emosional terkait pada pihak yang merasakannya.   

Di sisi lain, sebuah fabel bersuasana humor membandingkan Orde Baru dengan Orde Reformasi  secara gamblang meski agak “menyakitkan” menjelaskan makna kebahagiaan alam demokrasi yang sebenarnya : Di masa Orde Baru dua ekor anjing berbincang soal kebahagiaan hidup .

Yang seekor bertanya “ Kamu bahagia?” yang lain menjawab “Mana mungkin bahagia ? Cari makan susah ! “. Kemudian mereka berdua berpisah untuk berjumpa kembali setelah Orde Reformasi berhasil melengserkan rezim Orde Baru . Anjing yang anti demokrasi bertanya “Sekarang kamu bahagia?” yang pro demokrasi menjawab “Bahagia !” ,  yang anti demokrasi sinis menukas : “Mana mungkin bahagia?  Cari makan makin  susah !”, langsung tegas dibantah oleh yang  pro demokrasi : “Tetapi sekarang saya bebas menyalak ! Huk ! Huk ! Huk ! Huk !”  dibantah pula oleh yang anti demokrasi “ Hati hati kamu jangan sampai dituduh makar!“

Ada pula kisah fabel tentang seekor anjing yang terpaksa ikut majikannya yang kena gusur lalu dipaksa pindah ke rusunawa. Setelah berselang seminggu kemudian ternyata sang anjing tidak menggoyang ekornya ke kanan ke kiri tetapi ke atas dan ke bawah. Ketika ditanya kenapa anjingnya bersikap aneh begitu maka sang majikan menjelaskan “Memang saya paksa dia goyang ekor ke atas ke bawah akibat ruang di rusunawa sangat sempit! [***]

Penulis adalah penggagas Humorologi, Kelirumologi, Alasanologi, Malumologi


Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya