Berita

Rizal Ramli

Bisnis

Kisah Rizal Ramli Lima Bulan Mendongkrak BNI

RABU, 14 JUNI 2017 | 21:08 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Lebih dari satu kali Rizal Ramli menerima tantangan pemerintah membenahi perusahaan negara yang menuju ambruk.

Misalnya, pada pertengahan Maret 2015. Eks Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Keuangan di era Presiden Abdurrahman Wahid itu diminta menyumbangkan tenaga dan pikirannya sebagai Komisaris Utama PT Bank Negara Indonesia atau BNI (Persero) Tbk.

Salah seorang penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itu menilai BNI sebagai bank kuat dan bagus. Tapi, perlu perbaikan di sana-sini.


Pada masa awal reformasi, tangan dingin Rizal Ramli juga yang terbukti mujarab memperbaiki Bulog dan Semen Gresik Group. Di bawah kendalinya, kinerja dua perusahaan negara itu melampaui ekspektasi banyak pihak. Keuntungan SG Group naik dari Rp 400 miliar menjadi Rp 3,2 trilliun dalam dua tahun. Keberhasilan ini membuat SG Group menjadi BUMN terbesar ketujuh dari segi aset dan keuntungan. Sebelum digarap Rizal Ramli, posisi SG Group berada di bawah urutan 20.

Sebagai Menko Perekonomian-nya Gus Dur, ia berhasil menyelamatkan PT PLN (Persero) dari kebangkrutan, melalui berbagai terobosan mencengangkan. 

Dalam periode jabatannya yang singkat sebagai Komut BNI (Maret-Agustus 2015), Rizal tanpa banyak bicara melakukan banyak hal. Janjinya menggelar perbaikan pada bank pelat merah tersebut berbuah peningkatan kinerja BNI. Langkahnya yang pertama, menajamkan corporate plan lima tahun (2015-2020).

Dari sini digariskan sejumlah goals berikut strateginya. Rizal Ramli beruntung dibantu oleh Dirut BNI Achmad Baiquini yang hebat dan Direksi BNI yang bagus-bagus dan kompak, serta tim komisaris yang profesional. Beberapa misi penting yang digariskannya antara lain; harus mampu mengejar BCA. Dia juga minta angka kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) diturunkan secara signifikan. Langkah ini penting, karena ia menjadi prasyarat utama untuk bisa tumbuh pesat.

Misi lain, menggenjot pertumbuhan kredit di atas rata-rata nasional yang 12 persen. Agar mampu menggenjot kredit, permodalan BNI harus diperkuat. Caranya, dengan melakukan revaluasi aset.

Rizal Ramli juga fokus pada salah satu sumber penghasilan utama perbankan, kartu kredit. Saat itu, kinerja kartu kredit BNI bisa disebut biasa-biasa saja. Bahkan, untuk ukuran bank nasional dengan aset ketiga terbesar, prestasi tersebut masuk kategori di bawah banderol. Padahal, kalau dikelola dengan baik, kartu kredit bisa jadi sumber penerimaan yang amat bagus. Maklum, pendapatan bunga dari kartu kredit jauh melampaui pos penerimaan lainnya.  

Rizal pun mengumpulkan seluruh jajaran komisaris dan direksi, dan meminta mereka menggenjot kartu kredit, agar mampu masuk ke posisi dua besar. Dia juga perintahkan direksi menugaskan seorang pejabat setingkat di bawah direktur, yang khusus bertanggungjawab untuk masalah ini.

Selanjutnya, sejumlah tips dan langkah dia sarankan agar dilaksanakan oleh manajemen untuk mewujudkan misi tersebut. Salah satunya, ia meminta manajemen menjadikan data mining sebagai sumber informasi penyaluran kredit. Data mining atau penggalian data adalah suatu proses menemukan hubungan yang berarti, pola, dan kecenderungan dengan memeriksa sekumpulan besar data yang ada. Lewat data mining ini rekam jejak debitor sudah dapat diketahui. Dari situ manajemen bisa menentukan berapa besaran kredit baru yang bisa diberikan kepada yang bersangkutan.  

Hasilnya, hanya dalam tempo tiga bulan, kartu kredit menjadi salah satu penyumbang pemasukan yang lumayan signifikan. Hal ini ditandai dengan kontribusi segmen kredit konsumer BNI sebesar 17,1 persen terhadap total kredit BNI, pada semester pertama 2016. Produk konsumer yang mendominasi adalah BNI Griya diikuti kartu kredit. Itulah sebabnya dalam hitungan bulan kemudian, misi menjejakkan kartu kredit di posisi dua perbankan nasional berhasil dicapai.  

Rizal Ramli benar-benar fokus pada kredit. Tapi, menggenjot kredit bukan berarti obral kredit secara serampangan. Singkat kata, Rizal berhasil memainkan instrumen "gas dan rem" dengan sangat apik di BNI.  

Di sisi lain, ekspansi kredit mustahil dilakukan jika struktur permodalan tidak kuat. Itulah sebabnya dia memerintahkan direksi melakukan revaluasi aset. Hasilnya, BNI berhasil mendongkrak asetnya sebesar Rp 2,1 triliun. Setelah dikurangi kewajiban pajak, sebagian nilai aset inilah yang dimasukkan ke modal. Itulah sebabnya BNI mampu memompa kredit hingga tumbuh hampir 24 persen pada semester pertama 2016. Angka ini jauh di atas rata-rata perbankan nasional yang hanya 12 persen.  

Jangan lupa, 73 persen dari total kredit BNI adalah kredit di segmen business banking. Bentuknya berupa kredit produktif, seperti kredit modal kerja dan investasi. Kemudian disalurkan ke segmen korporasi, menengah, dan rakyat kecil termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di sini nyata benar bahwa Rizal Ramli konsisten memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat kelompok menengah-bawah.  

Perseroan mengumumkan laba bersih pada semester pertama 2016 sebesar Rp 4,37 triliun. Angka ini melonjak 79,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba bersih tersebut, terutama didorong oleh penyaluran kredit yang memang digenjot dan diperbaiki kualitasnya.   

Peningkatan laba bersih seiring dengan terdongkraknya pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 11,7 persen menjadi Rp13,9 triliun. Hal ini terjadi karena realisasi penyaluran kredit BNI hingga akhir Juni 2016 tumbuh 23,7 persen dari Rp 288,72 triliun jadi Rp 357,22 triliun. Sedangkan, pendapatan nonbunga terkerek dari Rp 3,44 triliun menjadi Rp 4,43 triliun, alias naik 28,7 persen.

BNI kelimpahan untung dari tangan dingin Rizal. Sampai Juni 2016, asetnya mencapai Rp 539,14 triliun atau tumbuh 25,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset tersebut merupakan "berkah" dari kenaikan dana pihak ketiga yang mencapai 19,6 persen dan deposit dari bank lain yang naik 28,6 persen. [ald]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya