Berita

Foto/Net

Bisnis

Terkendala Harga, Pelni Bisa Batalkan Beli 3 Kapal Jerman

BUMN Masih Doyan Pesan Produk Luar Negeri
SELASA, 13 JUNI 2017 | 10:17 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Persero bakal mengkaji ulang pembelian tiga unit kapal dari perusahaan asal Jerman, Meyer Werft. Pasalnya, harga yang ditawarkan, dirasa kemahalan jika nantinya dioperasikan di Indonesia.

Direktur Utama PT Pelni Elfien Guntoro mengatakan, saat penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pelni dan Meyer setahun lalu, disepakati harga 70 juta Euro per unitnya.

"Setelah kita cek, kalau di­operasikan secara komersial di Indonesia, kita hanya sanggup 50 juta Euro per unit," kata Elfien di Kantor Kementerian Koordinator bidang Kemariti­man, Jakarta, kemarin.


Dilanjutkannya, kapal terse­but akan digunakan untuk meng­ganti unit-unit kapal lama yang dinilai sudah tidak efisien dan tidak ekonomis.

Selain itu, Pelni berharap kapal yang digunakan juga bisa memiliki fungsi pengangkutan barang selain mengangkut penumpang (multi purpose).

"Kita akan gunakan untuk me­layani rute utama yaitu Jakarta-Makassar-Bau Bau-Ambon-Sorong," lanjut Elfien.

Menurutnya, Pelni bisa saja membeli kapal tersebut kalau tarif pelayaran yang dibebankan ke pelanggan lebih tinggi dari saat ini.

"Sementara ini usulan mereka paling sedikit harganya 70 juta euro. Memang kapalnya bagus. Terlalu bagus bahkan, ibaratnya seperti mobil Mercedes Benz dipakai angkot kan kapalnya harusnya bukan kapal itu," ujarnya.

Jika negosiasi menemui jalan buntu, Pelni bisa saja mem­batalkan kerja sama tersebut dan mencari pemasok lain yang lebih murah.

Selain itu, ada kemungkinan Pelni bekerja sama dengan peru­sahaan galangan kapal lokal jika industri dalam negeri terbilang mampu.

"Kami coba cari galangan dari negara lain atau kerja sama dengan dalam negeri supaya kapal yang diperoleh masih memenuhi standar spesifikasi segala macam, tapi tetap feasible dioperasikan di Indonesia," pungkas Elfien.

Gengsi Bersinergi


Pengamat BUMN Ferdinand Hutahaean menilai, selama ini sinergi BUMN yang digembar-gemborkan Menteri BUMN Rini Soemarno belum berjalan dengan baik.

"Kita memiliki industri trans­portasi yang besar seperti PT Inka untuk kereta api, PT Pal, maupun Dok Perkapalan, ini harusnya bisa disinergikan. Nyatanya, masih banyak BUMN yang pesan produk transportasi dari luar negeri," kata Ferdinand kepada Rakyat Merdeka.

Padahal, kalau kapal laut maupun kereta api dibeli mela­lui BUMN atau perusahaan lokal, harga yang didapatkan bisa lebih murah dan kualitas yang didapatkan sama baiknya dengan produk buatan luar negeri.

"BUMN saat ini sepertinya masih gengsi bersinergi. Bahkan di beberapa lini bisnis, mereka malah bersaing antar sesama perusahaan pelat merah. Kalau begini, bukannya makin besar, justru malah kompetitor dari pihak swasta yang ambil un­tung," tegas Ferdinand.

Sebagai informasi, Pelni dan Meyer Werft menandatangani MoU pada 18 April 2016 silam untuk pengembangan baru dan pengadaan kapal ferry yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Saat ini, Pelni memiliki 28 unit kapal penumpang dan empat unit kapal barang yang melayani 91 pelabuhan yang tersebar di seluruh Indonesia. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya