Berita

Alissa Qotrunnada Munawaroh/Humas BNPT

Pertahanan

Alissa Wahid: 88 Persen Anak Muda Tak Suka Terorisme, Tapi Intoleran Menguat

SELASA, 13 JUNI 2017 | 10:56 WIB | LAPORAN:

Bulan Ramadhan tentunya harus bisa menjadi sebuah momentum untuk saling bertoleransi dan hormat-menghormati bagi antar umat beragama.
Sebagaimana diketahui bahwa hidup dalam sebuah masyarakat majemuk yang tidak hanya dari aspek etnis, adat istiadat atau tradisi, tapi juga keyakinan atau agama.

Hal yang terakhir inilah yang senantiasa menuntut adanya sikap toleransi di antara anak bangsa agar jalinan kerukunan antarumat beragama selalu terjaga.

Demikian disampaikan koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau yang biasa dikenal dengan Alissa Wahid.

Demikian disampaikan koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau yang biasa dikenal dengan Alissa Wahid.

“Sebagai warga negara yang hidup dalam masyarakat yang majemuk, bulan Ramadhan ini harus bisa dijadikan sarana untuk mengasah spirit toleransi dan kerukunan antar sesama umat tersebut,” ujar Alissa Wahid, di Jakarta, Selasa (13/6).  

Dijelaskan putri sulung Presiden RI ke-4, (Alm.) KH. Abdurrachman Wahid atau Gus Dur ini, toleransi itu pada dasarnya sikap untuk saling menghormati. Dan sikap saling menghormati itu sendiri dasarnya adalah keyakinan bahwa semua manusia itu adalah ciptaan tuhan. Dan karena itu setiap manusia memiliki posisi yang setara yang nantinya akan dinilai oleh Tuhan.

"Jadi yang membedakan atau manusia berbeda hanya dari ketaqwaannya. Dan Tuhan akan menilai manusia hanya dari ketaqwaan. Bukan manusia yang menilai. Tetapi selain itu manusia di muka bumi ini adalah setara," ujarnya

Dan dari situlah dirinya meminta kepada seluruh umat manusia untuk memulainya dari berpikir adil.

"Kalau kita bisa berpikir adil, lalu kalau kita mengikuti ajaran di dalam kitab suci bahwa Tuhan itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling membantu, maka toleransi seharusnya tidak menjadi masalah," ujar wanita yang telah menyelasaikan studi master bidang psikologi.di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Ia tidak menampik atas kekuatiran yang terjadi selama ini terhadap pesan permusuhan yang beredar di media sosial yang semakin menguat.

Bersama para murid-murid Gusdurian yang tersebar di berbagai daerah dirinya bermitra dengan Infid (International NGO Forum on Indonesian Development) untuk melakukan penelitian terhadap masalah intoleransi dan masalah terorisme.

Menurutya, ada dua hal yang cukup menarik yang muncul dari penelitian tersebut dalam dua kutub. Di mana kutub yang pertama adalah 88 persen anak muda di Indonesia itu sebenarnya tidak setuju dengan terorisme. Tidak menganggap terorisme itu wujud sebagai keberagamaan, bahwa ini adalah jihad atas nama Tuhan, tidak dipercaya oleh mereka.

"Tapi  pada saat yang sama, sikap intoleran itu ternyata juga semakin menguat. Jadi walaupun tidak setuju dengan terorisme pada saat ini, tetapi ada sikap-sikap tidak menyukai atau tidak setuju kepada orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku," ujarnya, menyayangkan.

Kelompok ekstrimis ini menurutnya menggunakan istilah-istilah yang menyulut kemarahan. Yang pertama, bagaimana kelompok agama tertentu itu ditindas dan memandang orang lain menjadi musuh.

"Jadi bahan bakarnya adalah permusuhan, rasa takut dan kebencian. Jadi rasa takut diserang oleh kelompok yang berbeda, kemudian yang kedua yaitu benci. Benci kepada kelompok yang berbeda, lalu yang ketiga permuuhan dan upaya untuk menguasai. Jadi menyerang kelompok yang berbeda," ujarnya

Mencontoh apa yang telah dilaksanakan oleh sang ayah, Gus Dur, kata dia, tidak pernah membeda-bedakan agama masyarakat. Bagi Gus Dur, yang lebih penting bagaimana  mengutamakan kepentingan masyarakat luas.

"Almarhum bapak saya dulu juga pernah memperkenalkan rukun kemanusiaan, yaitu keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan. Jadi kemanusiaan juga menjadi nilai yang dijunjung tinggi dalam bersikap saling toleransi antar sesama umat," ulasnya.

Untuk itu ia mengingatkan sebagai umat manusia tidak perlu ketakutan dengan orang yang berbeda pendapat, kelompok, berbeda agama maupun berbeda latar belakang. Karena, justru perbedaan itu yang menjadi ruang untuk saling bekerja sama dan mengisi.

"Dan momentum bulan ramadhan ini adalah kesempatan buat kita semua untuk mengikis rasa benci, rasa curiga dengan memperkuat rasa saling percaya dan saling rasa keinginan untuk saling membantu sesama umat manusia,” ujarnya mengakhiri.[wid]




Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya