Berita

Bisnis

Pemerintah Harus Benahi Tata Niaga Garam

SENIN, 12 JUNI 2017 | 22:40 WIB | LAPORAN:

Praktik korupsi kembali terjadi di tubuh BUMN. Kali ini salah satu petinggi BUMN yang bergerak di bidang importasi garam yakni PT. Garam.

Polisi menangkap Dirut PT. Garam Ahmad Boediono yang diduga telah merugikan negara Rp 3,5 milliar dalam penyalahgunaan izin impor garam pada Minggu kemarin (10/6).

"Kok bisa ya. Saya tidak habis pikir ada pimpinan BUMN yang memanfaatkan posisi untuk kepentingan dan memperkaya pribadi," kata anggota Komisi VI Slamet Junaidi di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (12/6)


Melihat kenyataan tersebut, dia berpandangan bahwa dibutuhkan aturan ketat terkait impor garam dalam memenuhi kebutuhan nasional, baik itu garam konsumsi maupun garam industri. Data Kemenko Kemaritiman menunjukkan, kebutuhan garam nasional saat ini sekitar 4,019 ton dengan pembagian sebesar 2,054 ton untuk garam industri dan 1.965.000 ton garam konsumsi.   

"Jangan sampai dengan celah impor karena kekurangan produk dalam negeri malah dimanfaatkan oleh pihak tidak bertangung jawab. Sudah saatnya pemerintah meninjau kembali tata niaga garam agar petani garam kita tidak merugi. Kalaupun ada impor sesuai dengan penggunaannya, tidak boleh garam industri diakali jadi garam konsumsi," jelas Slamet.

Menurutnya, kehadiran PT. Garam sebetulnya untuk membantu menyerap garam produksi, bukan malah mematikan para petani garam.

"Kalau bisa dicari inovasi agar bagaimana kualitas garam petani kita bisa ditingkatkan khususnya bagi garam untuk industri. Sampai kapan kita selalu impor untuk menutupi kekurangan kebutuhan nasional, salah satunya garam," tutur Slamet.

Dia pun meminta agar Presiden Joko Widodo memberikan sanksi kepada BUMN yang melanggar segala kebijakan pemerintah, seperti pembatasan/pengurangan anggaran atau mencabut izin impornya.

"Kalau sudah seperti ini seluruh BUMN harus diawasi secara ketat. Bagi yang melanggar seperti PT. Garam, siap-siap diberikan sanksi pengurangan anggaran," pungkas Slamet. [wah] 

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya